
Ifonti.com JAKARTA. Instrumen saham diyakini masih akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi investor pada 2026. Namun analis menyarankan investor mesti selektif dalam menyusun portofolio saham pada tahun ini.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, kinerja pasar saham Indonesia berpeluang kembali tumbuh positif pada 2026 di tengah berbagai tantangan, baik global maupun domestik, khususnya ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan dampak dari bencana di Sumatera.
Prospek positif aset saham didorong oleh masih adanya ruang penurunan suku bunga acuan The Fed maupun Bank Indonesia (BI) pada tahun ini. “Kami melihat beberapa program pemerintah akan diakselerasi, seperti MBG dan hilirisasi,” kata dia, Kamis (1/1/2026).
Anak Usaha BUMA Internasional Grup (DOID) Rombak Susunan Direksi dan Komisaris
Dari situ, investor mesti selektif dalam menentukan saham-saham pilihan yang mengisi portofolio investasinya. Rully pun memandang saham-saham di sektor poultry, komoditas terkait emas, dan energi terbarukan punya prospek yang menjanjikan pada tahun ini.
“Saham-saham pilihan kami yaitu JPFA, BRPT, BRMS, DEWA, dan EXCL,” imbuh dia.
Sementara itu, Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menimpali, bagi investor berorientasi jangka panjang, maka awal tahun ini dapat menjadi momentum untuk melakukan rebalancing portofolionya. Sebab, ada banyak saham yang mengalami penurunan harga namun tetap punya prospek pertumbuhan positif secara jangka panjang.
“Jadi, tidak masalah mereka tetap masuk ke saham asalkan tetap menjaga likuiditas agar tetap aman, khususnya untuk pengeluaran dan kewajiban jangka pendek,” terang dia, Kamis (1/1/2026).
Bagi investor dengan profil risiko konservatif, Eko menyarankan mengalokasikan 40% porsi portofolionya untuk instrumen saham, sedangkan 40% lainnya untuk reksadana pasar uang dan 20% emas. Sedangkan untuk investor agresif, mereka diperbolehkan berinvestasi saham dengan porsi mencapai 70%–80% dengan aset deposito atau reksadana pasar uang dialokasikan sekitar 20%–30%.
Eko juga menyebut, saham-saham di sektor energi dapat menjadi pilihan bagi investor seiring dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan industri digital yang membutuhkan pasokan energi yang melimpah. Selain itu, sektor yang relatif stabil seperti perbankan dan konsumer juga layak dipertimbangkan oleh investor pada tahun ini.
Dorong Penggunaan Indonia, BI Resmi Hentikan Publikasi Jibor Mulai 1 Januari 2026
Kendati demikian, lantaran kondisi ekonomi nasional belum begitu stabil dan ancaman inflasi masih harus diantisipasi pada masa depan, maka investor perlu hati-hati dalam mengelola portofolio investasi saham. Investor diharapkan dapat menyeimbangkan kebutuhan dan kewajiban likuiditas agar mereka tidak terjebak utang di samping tetap memperhitungkan tujuan investasi jangka panjang.