
Ifonti.com JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bakal kembali aktif menggarap proyek hilirisasi batubara. Kali ini, PTBA berencana melanjutkan proyek pengembangan gasifikasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) pada 2026.
Seperti yang diketahui, pemerintah menyebut akan ada enam proyek hilirisasi yang menjalani prosesi groundbreaking terhitung mulai awal Februari 2026. Salah satunya adalah proyek DME sebagai substitusi LPG.
Sebelumnya, PTBA sudah sempat menjalankan proyek DME, namun terpaksa terhenti akibat hengkangnya salah satu mitra strategis yaitu Air Products & Chemical asal Amerika Serikat (AS).
Plh. Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno mengatakan, PTBA senantiasa berkomitmen mendukung kebijakan hilirisasi nasional untuk meningkatkan nilai tambah batubara dan memperkuat ketahanan energi melalui proyek DME.
Bukit Asam (PTBA) Gelar RUPSLB dengan Agenda Ubah Anggaran Dasar
Terkait target operasional dan kesiapan mitra, saat ini PTBA terus melakukan koordinasi intensif dengan MIND ID selaku induk holding serta arahan strategis dari pemerintah dan BPI Danantara. “Kami bersikap terbuka terhadap peluang kolaborasi dengan mitra global yang memiliki keunggulan teknologi,” ujar dia, Jumat (9/1/2026).
Dia menambahkan, PTBA telah menyiapkan cadangan batubara yang sangat mencukupi untuk mendukung program hilirisasi secara jangka panjang. Untuk alokasi cadangan batubara secara spesifik tahap pertama dan kebutuhan investasi proyek DME, PTBA masih melakukan proses sinkronisasi dengan studi kelayakan terbaru. Hal ini guna memastikan keberlanjutan proyek dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Pihak PTBA memandang bahwa keberhasilan proyek hilirisasi, termasuk DME, dapat tercapai jika didukung oleh ekosistem yang matang, kepastian teknologi, skema pendanaan yang kompetitif, hingga dukungan regulasi.
Produksi Batubara Berpotensi Turun di 2026, Begini Strategi Bukit Asam (PTBA)
Evaluasi terus dilakukan oleh PTBA secara komprehensif bersama pemangku kepentingan terkait untuk memastikan proyek DME dapat memberikan nilai tambah yang optimal secara ekonomi bagi perusahaan dan negara.
Lantas, fokus PTBA saat ini adalah memperkuat aspek teknis dan operasional di lapangan sembari menunggu keputusan final mengenai skema tata kelola investasi proyek DME.
“Kami optimis bahwa dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan pendanaan dari pemegang saham, dan mitra yang tepat, maka proyek DME ini dapat menjadi solusi strategis dalam substitusi energi impor,” ungkap Eko.
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, jika proyek DME mulai direalisasikan pada awal 2026, hal itu justru bisa membebani arus kas jangka pendek PTBA. Ini mengingat kebutuhan capital expenditure (capex) proyek tersebut cukup besar di fase konstruksi tanpa adanya potensi pendapatan instan.
Bukit Asam (PTBA) Aktif Garap Proyek Hilirisasi Batubara, Simak Rekomendasi Analis
“Risiko proyek ini sangat tinggi terutama dari sisi keekonomian harga jual DME dibanding LPG,” imbuh Wafi, Jumat (9/1/2026).
Dia melanjutkan, PTBA mesti mampu menggandeng mitra strategis yang membawa teknologi gasifikasi batubara yang telah teruji serta menerapkan struktur pendanaan berbasis project financing yang terpisah dari induk usahanya. Tak hanya itu, kepastian offtake agreement antara pemerintah dan PT Pertamina (Persero) dengan skema harga yang menguntungkan tentu menjadi syarat mutlak untuk menjamin kelayakan bisnis dan mitigasi risiko kerugian atas proyek DME pada masa depan.
Di luar itu, Wafi menilai prospek kinerja PTBA cenderung moderat atau stagnan pada 2026. Kebijakan pemangkasan produksi batubara nasional pada tahun ini otomatis akan menekan potensi volume penjualan, khususnya untuk porsi ekspor yang notabene menyumbang margin terbesar.
“Meski demikian, posisi PTBA sebagai pemasok utama batubara domestik jadi bumper yang solid,” terang dia.
Wafi pun merekomendasikan beli saham PTBA dengan target harga di level Rp 2.700 per saham.
Laba Bersih Bukit Asam (PTBA) Terkoreksi di Tengah Kenaikan Kinerja Operasional