
Ifonti.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada di bawah tekanan pada sepekan ini.
Pelemahan rupiah diperkirakan berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian global, khususnya yang bersumber dari dinamika geopolitik internasional.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai rupiah berpotensi melemah mendekati level Rp 16.900 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan ke depan.
Menurutnya, gejolak geopolitik yang masih berlangsung memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global dan domestik.
Rupiah Melemah Sepekan, Data Tenaga Kerja AS dan Risiko Global Membayangi
“Saya melihat pelemahan harga rupiah bisa mendekati Rp16.900 per dolar AS, karena gonjang-ganjing permasalahan geopolitik yang mempengaruhi kondisi ekonomi di dalam negeri,” ujar Ibrahim, Minggu (11/1/2026).
Ia juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia yang justru tercatat meningkat di tengah tekanan terhadap rupiah.
Kondisi ini, kata Ibrahim, mengindikasikan bahwa Bank Indonesia (BI) tidak terlalu agresif dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui instrumen Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun Non Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional.
“Kalau melihat kondisi sekarang, kemungkinan besar di kuartal pertama rupiah justru bisa menuju Rp 17.000 per dolar AS. Ini yang harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Prediksi Kurs Rupiah Jangka Pendek, Kekhawatiran Kondisi Fiskal Jadi Perhatian
Ibrahim menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan BI untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kuatnya tekanan ekonomi global dan risiko geopolitik masih akan menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah.
Dengan kondisi tersebut, Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah pada kuartal pertama 2026 masih akan berada dalam tren pelemahan, sehingga pelaku pasar perlu bersikap waspada terhadap volatilitas nilai tukar dalam waktu dekat.