Tether (USDT) dua wajah di Iran dan Venezuela

Ifonti.com  Peran stablecoin kembali menjadi sorotan menyusul gejolak ekonomi dan politik di Venezuela dan Iran.

Aset kripto berbasis dolar AS seperti Tether (USDT) tampil dengan dua wajah: menjadi penyelamat bagi masyarakat yang terhimpit krisis, sekaligus dimanfaatkan entitas yang terkena sanksi internasional untuk menghindari pembatasan ekonomi.

Melansir Cointelegraph Senin (12/1/2026), gejolak terbaru di Venezuela dan Iran pada awal 2026 kembali menegaskan peran ganda stablecoin tersebut.

Kedua negara menghadapi tekanan berat berupa sanksi ekonomi, inflasi tinggi, instabilitas politik, dan krisis biaya hidup.

Dalam kondisi ini, kripto khususnya stablecoin menjadi bagian penting dari ekosistem keuangan alternatif.

Sebagai informasi, mengacu data Coinmarketcap pukul 13.40 WIB, USDT berada dikisaran US$0,9986 atau turun 0,07% dalam sepekan terakhir.

Indeks Dolar AS Bergerak Sideways, Begini Dampaknya ke Rupiah di Tahun 2026

Keterlibatan Stablecoin di Iran

Iran dalam dua pekan terakhir dilanda gelombang protes akibat memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai rial Iran ke level terendah terhadap dolar AS.

Aksi protes yang awalnya berskala lokal berkembang menjadi demonstrasi nasional, dengan ribuan orang dilaporkan ditangkap dan ratusan lainnya tewas.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Iran juga memutus akses internet domestik.

Dalam konteks ini, kripto dan stablecoin menjadi alat penting bagi masyarakat Iran, mengingat nilai mata uang lokal terus tergerus selama beberapa dekade.

USDT berbasis jaringan Tron dilaporkan menjadi aset yang paling banyak digunakan untuk melindungi nilai kekayaan dari inflasi dan risiko sistemik.

Modal Asing Seret, Rupiah Diprediksi Tembus Level Rp 17.000 per Dolar AS

Namun, adopsi stablecoin di Iran sempat tertekan pada 2025 menyusul peretasan bursa kripto terbesar di negara tersebut serta pemblokiran sejumlah alamat USDT.

Pemerintah Iran juga memberlakukan batas kepemilikan stablecoin pada September 2025, dengan maksimum kepemilikan US$ 10.000 dan batas pembelian US$ 5.000 per orang per tahun.

Di sisi lain, stablecoin juga dilaporkan dimanfaatkan oleh entitas yang terkena sanksi.

Laporan firma analitik blockchain TRM Labs menyebutkan bahwa sejak 2023, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) diduga telah memindahkan lebih dari US$ 1 miliar stablecoin melalui dua perusahaan cangkang berbasis Inggris, yakni Zedcex dan Zedxion.

Meski secara publik beroperasi sebagai entitas terpisah, kedua perusahaan tersebut disebut berfungsi sebagai satu kesatuan infrastruktur keuangan bagi IRGC untuk menghindari sanksi internasional.

“Dalam praktiknya, mereka beroperasi sebagai satu perusahaan yang terintegrasi dalam ekosistem penghindaran sanksi Iran, memindahkan nilai lintas negara, mata uang, dan yurisdiksi,” ujar TRM Labs.

TRM Labs juga menyoroti peran Babak Zanjani, figur lama dalam jaringan penghindaran sanksi Iran yang sebelumnya telah dikenai sanksi atas dugaan pencucian miliaran dolar pendapatan minyak bagi rezim, termasuk IRGC.

IHSG Menguat ke 8.947.9 di Akhir Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: ADMR, MDKA, INKP

Venezuela dan Ketergantungan pada USDT

Situasi serupa juga terjadi di Venezuela. Anjloknya nilai bolivar Venezuela selama lebih dari satu dekade mendorong masyarakat luas mengadopsi USDT sebagai alat lindung nilai sekaligus sarana transaksi sehari-hari.

Rendahnya kepercayaan terhadap sistem perbankan membuat stablecoin digunakan secara luas, mulai dari pembayaran jasa hingga transaksi ritel. Banyak warga lebih memilih menggunakan dompet kripto ketimbang rekening bank.

“Itu cara membayar tukang kebun atau potong rambut. Anda bisa menggunakan Tether untuk hampir semua hal,” ujar pengusaha kripto Venezuela berusia 71 tahun, Mauricio Di Bartolomeo, kepada The Wall Street Journal.

WSJ juga mencatat bahwa adopsi USDT di Venezuela telah meluas meski minim platform resmi yang diatur untuk memperdagangkannya.

Selain masyarakat umum, USDT juga digunakan secara luas oleh perusahaan minyak negara Venezuela, Petroleos de Venezuela (PDVSA). Perusahaan tersebut dilaporkan mulai meminta pembayaran langsung dalam bentuk stablecoin untuk menghindari sanksi AS yang diberlakukan sejak 2020.

Diperkirakan sekitar 80% pendapatan minyak PDVSA diterima melalui Tether, yang juga digunakan untuk menyelesaikan berbagai transaksi masuk dan keluar perusahaan.

Ancaman Pidana ke Powell: Ini Dampak Besar ke Nilai Tukar Dolar AS

Upaya Tether Melawan Penghindaran Sanksi

Menanggapi penyalahgunaan tersebut, Tether dilaporkan bekerja sama dengan pemerintah AS untuk memblokir dompet-dompet yang terlibat dalam penghindaran sanksi.

WSJ menyebut Tether telah mem-blacklist puluhan dompet terkait perdagangan minyak domestik.

Data dari AMLBot menunjukkan bahwa Tether telah membekukan sekitar US$ 3,3 miliar dana sepanjang 2023 hingga akhir 2025, dengan US$ 1,75 miliar di antaranya berupa USDT berbasis Tron.

Akhir pekan lalu, Tether juga dilaporkan membekukan tambahan US$ 182 juta USDT berbasis Tron di lima dompet, meski belum dipastikan apakah tindakan tersebut terkait langsung dengan Iran atau Venezuela.

Hingga kini, Tether belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.