
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidatif pada perdagangan Rabu (14/1/2026) setelah ditutup menguat 0,72% ke level 8.948 pada Selasa (13/1/2026).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menjelaskan, dinamika ketidakpastian domestik dan global masih menjadi faktor yang menahan penguatan indeks.
“Kenaikan sebagian harga komoditas memberikan dorongan pada saham-saham terkait, namun ketidakpastian makro di dalam dan luar negeri tetap menahan tren kenaikan IHSG,” ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).
Dari sisi teknikal, Alrich menilai IHSG berada dalam fase konsolidasi. Terjadi penyempitan histogram positif MACD dan Stochastic RSI mengarah turun mendekati area pivot. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 8.840-9.000, selama belum mampu mencetak penutupan di atas resistance 9.000.
Sejumlah Saham Ini Sentuh ARA pada Selasa (13/1), Begini Kata Analis
“Potensi koreksi masih tergolong wajar selama IHSG tidak ditutup di bawah area support 8.730,” jelasnya.
Pelaku pasar juga mencermati pelemahan lanjutan rupiah ke Rp16.877 per dolar AS di pasar spot. Penguatan indeks dolar serta pelemahan mayoritas mata uang Asia mendorong naiknya demand dolar sebagai aset safe haven.
“Eskalasi ketidakpastian global kembali meningkatkan preferensi pasar terhadap dolar AS,” tambah Alrich.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari kepastian pemerintah terkait implementasi B40 pada tahun ini, serta pembahasan lanjutan mengenai B50 yang ditargetkan siap pada semester II-2026.
Kebijakan mandatori biodiesel tersebut dinilai dapat memberikan katalis positif bagi saham-saham berbasis CPO karena mendukung pengurangan ketergantungan energi fosil dan memperkuat agenda energi bersih nasional.
Dari eksternal, pasar menunggu rilis data trade balance China untuk Desember 2025 yang diperkirakan mencatat surplus US$105 miliar, lebih rendah dari November.
Saham Big Banks Kompak Menguat, BBNI Pimpin Kenaikan pada Selasa (13/1)
Sementara dari Amerika Serikat, data PPI Oktober-November 2025 dan retail sales November 2025 yang diperkirakan tumbuh 0,3% month to month akan menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed.
Untuk rekomendasi saham jangka pendek pada Rabu (14/1/2026), Phintraco Sekuritas memilih sejumlah emiten yang dinilai masih berpeluang menguat, yakni BBNI, BMRI, PGEO, JPFA, dan ISAT.