Digitalisasi kawasan negeri Rutong, BI perkuat UMKM dan pembayaran QRIS

Ringkasan Berita:

  • Negeri Rutong kini menjadi contoh implementasi digitalisasi kawasan wisata berbasis sistem pembayaran non tunai berkat dukungan penuh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku.
  • Melalui program Perluasan Sistem Pembayaran Non Tunai, BI mendorong Rutong untuk mempercepat adopsi transaksi digital, khususnya di sektor pariwisata dan UMKM. 
  • Upaya ini tidak hanya menjawab kebutuhan wisatawan modern, tetapi juga memperkuat tata kelola ekonomi desa secara transparan dan berkelanjutan.

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Transformasi digital terus merambah hingga ke pelosok negeri. 

Di Maluku, langkah nyata itu terlihat di Negeri Rutong, sebuah negeri adat di Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.

Negeri Rutong kini menjadi contoh implementasi digitalisasi kawasan wisata berbasis sistem pembayaran non tunai berkat dukungan penuh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku.

Melalui program Perluasan Sistem Pembayaran Non Tunai, Bank Indonesia mendorong Rutong untuk mempercepat adopsi transaksi digital, khususnya di sektor pariwisata dan UMKM. 

Upaya ini tidak hanya menjawab kebutuhan wisatawan modern, tetapi juga memperkuat tata kelola ekonomi desa secara transparan dan berkelanjutan.

Negeri Adat yang Bertransformasi Digital

Negeri Rutong merupakan salah satu negeri adat yang diakui sebagai kesatuan masyarakat hukum adat di Maluku. 

Secara administratif, Rutong berada di Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Provinsi Maluku. 

Negeri ini dipimpin oleh Raja Reza Valdo Maspaitella yang menjabat sejak tahun 2020.

Dengan jumlah penduduk sekitar 786 jiwa dan luas wilayah kurang lebih 1.114 hektare, Rutong memiliki kekayaan alam dan budaya yang lengkap. 

Wilayahnya membentang dari kawasan permukiman, pertanian, hutan lindung, hingga pesisir yang ditumbuhi mangrove dan terumbu karang.

Di tengah modernisasi, Rutong tetap kokoh menjaga identitas adat.

Baileo Besar Negeri Rutong menjadi pusat kegiatan adat dan simbol persatuan masyarakat. 

Berbagai ritual tradisional, seperti Ritual Panas Gandong, masih dilaksanakan sebagai bentuk penguatan ikatan kekeluargaan antar-negeri adat di Maluku.

Hutan Sagu, Ekowisata dan Identitas Orang Maluku

Salah satu ikon utama Negeri Rutong adalah hutan sagu seluas sekitar 24 hektare. 

Kawasan ini bukan hanya sumber ketahanan pangan, tetapi juga dikembangkan sebagai ekowisata hutan sagu. 

Wisatawan dapat menyaksikan langsung proses tradisional pengolahan sagu, makanan pokok masyarakat Maluku, sekaligus belajar tentang nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Pada tahun 2024, pendapatan dari kunjungan wisata hutan sagu tercatat mencapai sekitar Rp37 juta, yang bersumber dari karcis masuk. 

Angka ini menjadi bukti bahwa pengelolaan wisata berbasis kearifan lokal mampu memberi kontribusi nyata bagi ekonomi negeri.

Desa Pintar Pertama di Maluku

Rutong juga mencatat sejarah sebagai desa pintar (smart village) pertama di Provinsi Maluku melalui peluncuran platform digital Rutong.id. 

Platform ini mendukung konsep smart government, smart economy, dan smart community, sekaligus menjadi etalase promosi potensi wisata dan UMKM lokal.

Sejalan dengan itu, pembayaran digital berbasis QRIS mulai diterapkan secara luas. 

Mulai dari pembayaran karcis masuk kawasan wisata hingga transaksi kuliner yang dijajakan pelaku UMKM, semuanya kini dapat dilakukan secara non tunai.

Peran Strategis Bank Indonesia

Ketua Lembaga Pariwisata Negeri Rutong, Richardo Makatita, menjelaskan bahwa Rutong merupakan salah satu Desa Binaan Bank Indonesia KPW Maluku.

“Dukungan BI sangat besar bagi kami. Mulai dari pembangunan sebagian jalan menuju Hutan Sagu, pengembangan kapasitas SDM pelaku UMKM, hingga bantuan peralatan produksi,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (24/12/2025).

Bank Indonesia juga memberikan pelatihan dan peralatan bagi kelompok UMKM pengolahan wine, jus, dan selai tomi-tomi, dengan total dukungan anggaran yang mencapai kisaran Rp100 jutaan. 

Saat ini terdapat lima pelaku UMKM aktif di Negeri Rutong yang merasakan langsung manfaat program tersebut.

Tak hanya itu, sejak awal Desember 2025, BI memasang internet Starlink gratis selama satu tahun untuk mendukung konektivitas digital kawasan wisata. 

Sebuah tablet dan perangkat digital transaksi juga disumbangkan guna memperlancar implementasi sistem pembayaran non tunai.

Menuju Desa Wisata Siap QRIS

Pemanfaatan QRIS di Negeri Rutong telah berjalan sejak tahun 2023, terutama untuk pembayaran karcis masuk kawasan wisata. 

Kini, penggunaan QRIS terus diperluas ke kios-kios UMKM, dengan tingkat adopsi mencapai sekitar 50 persen.

“QRIS sangat berpengaruh terhadap peningkatan digitalisasi pembayaran, terutama bagi wisatawan nasional yang sudah terbiasa bertransaksi non tunai. Dari sisi pencatatan keuangan juga lebih rapi, karena setiap transaksi langsung tercatat di rekening bank,” jelas Richardo.

Dengan dukungan berkelanjutan dari Bank Indonesia, Rutong menargetkan diri sebagai Desa Wisata Siap QRIS, di mana transaksi tunai dan non tunai dapat berjalan berdampingan.

Namun secara bertahap transaksi digital menjadi lebih dominan.

Dampak Nyata bagi UMKM

Manfaat digitalisasi juga dirasakan langsung oleh pelaku UMKM. Salah satu pelaku UMKM olahan tomi-tomi, Ece Atibaman mengaku bersyukur atas dukungan Bank Indonesia.

“BI tidak hanya memberikan peralatan, tetapi juga pelatihan untuk meningkatkan kualitas produksi. Ini sangat membantu kami berkembang,” ujarnya.

Harapan Keberlanjutan

Pihak pengelola berharap kerja sama dengan Bank Indonesia dan pemerintah daerah dapat terus berlanjut. 

Dukungan lintas sektor, khususnya dari dinas pariwisata, dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pengembangan desa wisata, UMKM, serta pelestarian budaya.

“Hutan sagu adalah identitas orang Maluku. Kami berharap program-program ini terus dijaga dan dilanjutkan. Terima kasih kepada BI atas dukungan SDM, fasilitas, dan promosi wisata yang selama ini sangat membantu kemajuan Negeri Rutong,” tutup Richardo.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Dicky R. Afriyanto, menjelaskan bahwa digitalisasi sistem pembayaran di Negeri Rutong merupakan bagian dari strategi BI untuk mengoptimalkan potensi pariwisata daerah melalui pemanfaatan teknologi keuangan.

“Penerapan pembayaran non tunai ini kami dorong untuk mempercepat akselerasi pengembangan sektor pariwisata. Harapannya, aktivitas wisata di Rutong dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi Provinsi Maluku,” kata Dicky.

Menurutnya, wisata berbasis digital bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi kebutuhan untuk menjawab perubahan perilaku wisatawan yang kini semakin terbiasa dengan transaksi non tunai.

Sejalan dengan ETPD dan Pariwisata Digital

Dicky menegaskan, digitalisasi sistem pembayaran di kawasan wisata Rutong sejalan dengan mandat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sistem pembayaran, sekaligus mendorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD).

“Melalui digitalisasi transaksi di lokasi wisata, BI mendukung pemerintah daerah dan pengelola destinasi untuk mengoptimalkan penerimaan secara transparan dan akuntabel. Ini juga menjadi fondasi penting bagi pengembangan pariwisata digital di Maluku,” jelasnya.

Dengan sistem non tunai, wisatawan dapat bertransaksi lebih mudah dan aman, sementara pemerintah daerah memperoleh data transaksi yang lebih akurat.

Alasan Memilih Negeri Rutong

Pemilihan Negeri Rutong sebagai lokasi implementasi digitalisasi kawasan wisata, menurut Dicky, bukan tanpa alasan. Rutong dinilai memiliki kesiapan yang matang dari sisi kelembagaan dan pasar.

“Pertama, dari aspek kelembagaan, Rutong sudah memiliki lembaga pengelola wisata yang profesional dan berfungsi optimal. Kedua, dari sisi aksesibilitas pasar, destinasi ini sudah dikenal luas, baik oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara,” ungkapnya.

Kesiapan tersebut menjadikan Rutong sebagai model ideal untuk pengembangan kawasan wisata berbasis sistem pembayaran digital di Maluku.

Digitalisasi pembayaran di Negeri Rutong tidak hanya difokuskan pada tiket masuk kawasan wisata. 

Bank Indonesia juga mendorong perluasan penggunaan QRIS dan kanal pembayaran digital lainnya pada seluruh pelaku UMKM setempat.

“Ke depan, ekosistem digital di Rutong akan mencakup seluruh rantai ekonomi wisata, termasuk transaksi UMKM. Ini penting agar manfaat digitalisasi benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Dicky.

Dengan keterlibatan UMKM, digitalisasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha sekaligus memperluas akses pelaku usaha kecil ke layanan keuangan formal.

Rencana Jangka Panjang: Elektronifikasi Desa Wisata

Dalam jangka panjang, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah berkomitmen membangun ekosistem Elektronifikasi Desa Wisata (EDW) secara berkelanjutan.

“Tujuan kami adalah mendigitalisasi seluruh rantai nilai kawasan wisata, mulai dari sistem tiket hingga transaksi UMKM. Dengan begitu, tercipta ekosistem ekonomi digital yang terintegrasi dan inklusif,” ujar Dicky.

Ekosistem ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan desa wisata modern tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Target Tiga Tahun ke Depan

Dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun ke depan, Bank Indonesia menargetkan peningkatan signifikan pada indeks literasi dan inklusi keuangan digital, khususnya di kalangan wisatawan dan pelaku usaha pariwisata di Maluku.

Selain itu, digitalisasi transaksi diharapkan mendorong pengelolaan kawasan wisata yang lebih transparan dan akuntabel.

“Dengan data transaksi yang terekam secara digital, pemerintah daerah dan pengelola wisata dapat menyusun kebijakan berbasis data untuk pengembangan sarana dan prasarana yang lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Ajakan Beralih ke Non Tunai

Di tengah era disrupsi digital, Dicky mengajak masyarakat dan pelaku UMKM untuk tidak ragu beralih ke sistem pembayaran non tunai.

“Digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi solusi transaksi yang CeMuMuAH—Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal. Bagi UMKM, ini sangat penting untuk membangun pencatatan keuangan yang akuntabel dan memperluas jangkauan pasar,” pungkasnya.

Model Desa Wisata Masa Depan

Perpaduan kearifan lokal, pelestarian alam, inovasi digital, dan sistem pembayaran non tunai menjadikan Negeri Rutong sebagai model desa wisata modern berbasis adat. 

Langkah ini sejalan dengan visi Bank Indonesia dalam mendorong ekonomi dan keuangan digital yang inklusif, sekaligus membuktikan bahwa transformasi digital dapat berjalan harmonis dengan nilai-nilai tradisional.

Negeri Rutong kini bukan sekadar tujuan wisata, tetapi juga simbol bagaimana desa adat di Maluku mampu beradaptasi dan melangkah maju di era ekonomi digital.(*)