
Ifonti.com NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tajam pada perdagangan Selasa (20/1/2025). Tekanan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif impor baru terhadap sejumlah negara Eropa, menyusul ketegangan terkait isu penguasaan Greenland.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.30 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 653,07 poin atau 1,32% ke level 48.706,26. Indeks S&P 500 turun 94,67 poin atau 1,39% ke 6.843,59, sementara Nasdaq Composite merosot 385,24 poin atau 1,64% ke posisi 23.130,15.
Tekanan pasar sudah terasa sejak sebelum pembukaan, seiring kekhawatiran investor terhadap eskalasi perang dagang baru antara Amerika Serikat dan Eropa. Pelaku pasar AS juga baru kembali bertransaksi setelah libur bursa pada Senin, di tengah meningkatnya aversi risiko global.
Situasi tersebut mendorong lonjakan harga emas ke rekor tertinggi, melemahkan bursa saham global, serta memberi tekanan pada pasar obligasi pemerintah AS.
Wall Street Anjlok, Dipicu Tarif Trump dan Kinerja Amazon yang Mengecewakan
Trump pada Sabtu lalu menyatakan akan memberlakukan tambahan tarif impor sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Negara-negara tersebut sebelumnya sudah dikenakan tarif oleh AS.
Tarif itu disebut akan dinaikkan menjadi 25% mulai 1 Juni dan akan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan bagi Amerika Serikat untuk membeli Greenland. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Namun, pemerintah Denmark dan otoritas Greenland—wilayah otonom di bawah Denmark—menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual.
“Kelemahan pasar saat ini dipicu oleh tajuk berita yang memunculkan kecemasan dan ketidakpastian tentang arah ke depan,” ujar Kepala Strategi Pasar Little Harbor Advisors, David Lundgren.
Ia menambahkan, investor mulai melakukan rotasi aset. “Kami melihat pergeseran dari saham-saham raksasa teknologi ke perusahaan kecil dan menengah, serta potensi peralihan dari pasar AS ke pasar luar negeri yang sebelumnya tertinggal.”
Selasa ini juga menandai satu tahun kembalinya Trump ke Gedung Putih. Dalam periode tersebut, pasar mengalami volatilitas tinggi.
Wall Street Cetak Rekor Selasa (28/10): Nvidia, Microsoft, Apple Pimpin Pasar
Indeks S&P 500 sempat jatuh mendekati zona pasar bearish setelah kebijakan tarif “Liberation Day” pada April, sebelum kembali reli ke level tertinggi berkat kinerja laba perusahaan yang solid dan ekonomi AS yang masih tangguh.
Di tengah gejolak pasar, saham Critical Metals, perusahaan yang memiliki kepentingan strategis di Greenland, melonjak 8,3% pada perdagangan prapembukaan. Sementara itu, indeks volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street, naik ke level tertinggi dalam dua bulan di 19,69 poin.
Kontrak berjangka juga menunjukkan tekanan lanjutan. S&P 500 e-mini turun 1,37%, Nasdaq 100 e-mini melemah 1,65%, dan Dow e-mini terkoreksi 1,28%.
Pekan Padat Data dan Laporan Keuangan
Pelaku pasar kini bersiap menghadapi pekan yang sarat dengan rilis data ekonomi penting, mulai dari pembaruan pertumbuhan ekonomi (PDB) AS kuartal III, data PMI Januari, hingga laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS, Federal Reserve.
Musim laporan keuangan juga mulai memanas. Sejumlah perusahaan besar seperti Intel dan Netflix dijadwalkan merilis kinerja keuangan kuartalan mereka pekan ini.
Saham Netflix naik 1,3% menjelang pengumuman kinerja, sementara saham 3M anjlok 4,8% setelah perusahaan tersebut memproyeksikan laba tahunan di bawah ekspektasi pasar.
Data LSEG mencatat, dari 33 perusahaan anggota S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga Jumat lalu, sekitar 84,8% berhasil membukukan laba di atas perkiraan analis.
Pasar juga mencermati potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif Trump, serta pidato para pemimpin dunia dalam World Economic Forum di Davos, Swiss.
Wall Street Anjlok Pasca Bank-Bank Besar Memperingatkan Risiko Pelemahan Pasar Saham
Selain itu, ketidakpastian meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa Trump berpotensi memutuskan ketua Federal Reserve berikutnya paling cepat pekan depan.
Pernyataan ini menambah kegelisahan pasar, terutama setelah pemerintahan Trump sebelumnya mengancam akan menuntut Ketua The Fed Jerome Powell.
Di sisi korporasi, saham RAPT Therapeutics melonjak 63,7% setelah perusahaan farmasi asal Inggris, GSK, sepakat mengakuisisi perusahaan tersebut senilai US$2,2 miliar. Akuisisi ini memperluas portofolio GSK di bidang obat alergi makanan eksperimental.
Sementara itu, saham perusahaan tambang logam mulia yang tercatat di AS seperti Hecla Mining dan Endeavour Silver masing-masing naik 7,2% dan 4,3%.
Kenaikan ini sejalan dengan harga emas yang melesat menembus US$4.700 per ons untuk pertama kalinya, sementara harga perak bergerak mendekati level tertinggi sepanjang masa.