
Ifonti.com JAKARTA. Di tengah musim dingin yang masih berlangsung di belahan bumi utara, pergerakan harga komoditas energi menunjukkan arah yang berbeda.
Harga gas alam tercatat melonjak signifikan, sementara harga batubara justru bergerak terbatas dan masih melemah secara tahunan.
Melansir Trading Economics pada Jumat (23/1/2026) pukul 16.00 WIB, harga gas alam di level US$ 4,90 per MMBtu naik 57,93% secara mingguan dan 42,05% YoY. Adapun harga batubara di level US$ 109,55 per ton, naik 1,06% secara mingguan, tapi turun 5,97% YoY.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai perbedaan arah pergerakan tersebut tidak lepas dari perubahan struktural permintaan energi global pasca konflik Rusia-Ukraina.
Musim Dingin Dongkrak Harga Gas Alam, Batubara Masih Bergerak Terbatas
Saat konflik pecah dan Rusia dikenai sanksi ekonomi oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat, harga batubara sempat melonjak tajam pada tahun 2022 karena Eropa kehilangan salah satu sumber pasokan energi utamanya.
“Namun dari situ Eropa belajar. Mereka mulai serius beralih ke energi terbarukan agar tidak lagi tergantung, khususnya pada batubara,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Seiring berjalannya waktu, negara-negara Eropa mempercepat penggunaan energi matahari, angin, air, dan panas bumi.
Peralihan ini membuat permintaan batubara global terus menurun, meskipun saat ini masih berada di periode musim dingin yang biasanya identik dengan kenaikan konsumsi energi.
Selain itu, tekanan terhadap harga batubara juga datang dari sisi pasokan. Produksi batubara domestik di China dan India meningkat signifikan, sehingga kebutuhan impor menurun.
Harga Emas dan Perak Cetak Rekor Tertinggi Usai Ancaman Tarif Trump ke Eropa
Kondisi ini memicu kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global, yang pada akhirnya menahan laju harga.
“Sekarang Indonesia dan Australia praktis hanya mengandalkan pasar tradisional seperti India dan China. Itu pun produksinya mereka juga besar, jadi impor tidak sebesar dulu,” jelas Ibrahim.
Meski demikian, Ibrahim memperkirakan harga batubara masih akan bertahan di kisaran sekitar US$ 110 per ton hingga akhir tahun 2026, meski masih berpotensi mengalami koreksi terbatas.
Sementara itu, kenaikan harga gas alam yang signifikan saat ini dinilai lebih bersifat musiman.
Ibrahim menjelaskan, gas alam lebih praktis digunakan untuk pemanas, memasak, dan pembangkit listrik, terutama di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, gas alam dipandang lebih ramah lingkungan dibanding batubara.
Perak Sentuh US$ 94 per ons troi, Mengapa Logam Ini Jadi Primadona Baru?
Faktor musim dingin turut memperkuat kenaikan harga gas alam. Namun, Ibrahim menilai lonjakan tersebut tidak akan bertahan lama. Memasuki Maret, saat musim dingin berakhir dan beralih ke musim panas, permintaan gas alam diperkirakan menurun.
“Gas alam kan jauh lebih murah juga. Kalau sekarang di kisaran US$ 4,9 per MMBtu, tahun 2026 kemungkinan turun ke sekitar US$ 4,4 per MMBtu. Nanti baru naik lagi menjelang musim dingin berikutnya, sekitar November-Desember,” katanya.
Ke depan, Ibrahim melihat tren jangka panjang gas alam masih lebih positif dibanding batubara, seiring berlanjutnya transisi energi global.
Sebaliknya, dalam jangka panjang batubara diperkirakan menghadapi tekanan struktural yang membuat ruang kenaikan harga semakin terbatas.