
Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Bandung Barat, Jawa Barat, menetapkan status darurat bencana menyusul peristiwa longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang menimbulkan korban dalam jumlah besar.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan penetapan status darurat bertujuan mempercepat proses penanganan di lapangan, termasuk pencarian puluhan warga yang dinyatakan hilang.
“Saya tetapkan per Sabtu (24/1) darurat bencana, karena korban cukup banyak,” ujar Bupati Jeje di Bandung Barat, Sabtu (24/1).
Jeje menegaskan pemerintah daerah akan memperkuat langkah mitigasi bencana ke depan, mengingat wilayah Bandung Barat dan Jawa Barat pada umumnya merupakan kawasan rawan bencana.
“Kami akan melakukan koordinasi secara masif, terutama di daerah rawan seperti perbukitan dan tanah miring,” katanya.
Dengan status darurat bencana itu, ia memastikan seluruh sumber daya pemerintah daerah akan dimaksimalkan untuk penanganan korban.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman menyebutkan tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap warga yang tertimbun longsor di area itu. Pencarian dilakukan secara manual dengan mengandalkan personel gabungan serta bantuan anjing pelacak K9.
Herman menyebutkan proses pencarian dan evakuasi korban dikoordinasikan langsung oleh Bupati Bandung Barat dengan melibatkan berbagai unsur, antara lain TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Basarnas.
Longsor di Bandung Barat: 10 Orang Meninggal Dunia
Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat mencatat sebanyak sepuluh kantong jenazah korban bencana longsor di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang saat ini berada di pos Disaster Victim Identification (DVI).
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jabar Kombes Pol. Hendra Rochmawan mengatakan, sebanyak enam identitas jenazah telah berhasil diidentifikasi dan dikonfirmasi.
“Dari jumlah itu, terdapat 10 kantong jenazah di pos DVI yang sedang diproses. Enam sudah teridentifikasi, satu berupa bagian tubuh, dan masih ada tiga lainnya yang masih dalam proses identifikasi,” kata dia di Bandung, Sabtu (24/1).
Ia menjelaskan bahwa proses identifikasi lainnya masih terus dilakukan oleh tim DVI Polda Jabar bersama tim SAR gabungan di tengah keterbatasan cuaca ekstrem. Beberapa bagian tubuh sudah memiliki pembanding sidik jari terhadap bagian tubuh yang sudah dievakuasi dan kini dalam proses identifikasi melalui data sebelum meninggal (ante-mortem) dan sesudah meninggal (post-mortem).
“Bagian tubuh berupa tangan sudah dapat diidentifikasi karena memiliki pembanding sidik jari. Sementara bagian tubuh berupa kaki dan lainnya masih dalam proses identifikasi melalui ante-mortem dan post-mortem,” kata dia.
Ia mengatakan proses pencarian korban terdampak longsor masih menghadapi kendala kondisi cuaca di lokasi kejadian. “Berdasarkan laporan terakhir Sabtu (24/1) pukul 16.00 WIB, masih terdapat sekitar 71 orang yang dilaporkan hilang,” ia menambahkan.
Selain proses identifikasi dan pencarian korban, Polda Jabar menyalurkan bantuan logistik untuk membantu para korban terdampak bencana.
Modifikasi Cuaca untuk Permudah Proses Pencarian Korban Longsor
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong pelaksanaan modifikasi cuaca untuk mempercepat evakuasi warga terdampak longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Bima mengatakan langkah percepatan upaya evakuasi itu sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, guna mengoptimalkan pencarian korban. Modifikasi cuaca juga akan dipusatkan di Kecamatan Cisarua untuk memastikan kondisi aman bagi tim SAR dalam melakukan pencarian.
“Kami menerima laporan dari Gubernur bahwa modifikasi cuaca akan dilakukan berpusat di daerah ini agar cuaca kondusif untuk pencarian warga yang masih terdampak. Arahan Presiden juga memastikan saya turun langsung ke lokasi untuk mengawasi koordinasi cepat pasca bencana,” ujar dia saat meninjau lokasi bencana di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/1).
Selain itu, ia mendorong pemda menyediakan hunian sementara bagi warga yang rumahnya terdampak bencana, sekaligus jaminan dukungan logistik dan insentif.
“Insentif ini bersifat sementara selama dua bulan, agar warga tetap terlindungi sambil menunggu solusi jangka panjang. Koordinasi terus dilakukan dengan pemerintah provinsi untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal,” katanya.
Bima menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan tim SAR agar operasi pencarian korban longsor di Bandung Barat dan evakuasi dapat berlangsung optimal.