
Ifonti.com JAKARTA. Memasuki awal 2026, sejumlah emiten kembali agresif melakukan pembelian kembali (buyback) saham di tengah pasar yang masih bergejolak.
Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk menopang harga saham sekaligus mengirimkan sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental bisnis perusahaan.
Pekan lalu, dua emiten Grup Astra, PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR), kompak mengumumkan rencana buyback saham masing-masing senilai Rp 2 triliun. Seluruh dana buyback tersebut berasal dari kas internal perusahaan.
Tak hanya Grup Astra, aksi serupa juga dilakukan oleh PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) yang menyiapkan dana buyback Rp150 miliar. Program ini akan berlangsung selama tiga bulan, mulai 23 Januari hingga 23 April 2026.
Aksi Buyback Saham Jadi Sentimen Positif, Cermati Rekomendasi Analis
Selain itu, beberapa emiten lain juga mengumumkan buyback saham sepanjang Januari 2026. Di antaranya PT Harum Energy Tbk (HRUM) dengan nilai buyback Rp335 miliar, PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) sebesar Rp 90,15 miliar, serta PT Jaya Real Property Tbk (JRPT) yang memperpanjang periode buyback hingga 13 April 2026 dengan alokasi dana Rp50 miliar.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai maraknya aksi buyback mencerminkan pandangan manajemen bahwa harga saham emiten saat ini berada di bawah nilai wajarnya, terutama di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
Khusus untuk UNTR, Abida menilai buyback juga dipicu oleh koreksi tajam harga saham yang mencapai sekitar 12%–15%. Tekanan tersebut muncul akibat sentimen negatif terkait isu perizinan operasi anak usahanya, PT Agincourt Resources.
Melalui buyback, UNTR berupaya menahan tekanan harga sekaligus menegaskan bahwa valuasi sahamnya masih menarik secara fundamental.
Polanya Mirip Saham BUMI, Glencore Rajin Jualan Saat NCKL Cetak Rekor All Time High
“Di saat kondisi pasar sedang rapuh, buyback relatif menarik karena berpotensi menopang harga saham, meningkatkan earning per share (EPS), dan memperbaiki sentimen, meski dampaknya tidak selalu instan,” ujar Abida, Jumat (23/1).
Sinyal Positif, Tapi Bukan Jaminan
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai buyback saham merupakan sinyal kuat bahwa manajemen memandang koreksi harga saham lebih bersifat teknikal dan dipengaruhi sentimen jangka pendek, bukan karena pelemahan fundamental bisnis.
Dari sisi investor, buyback memiliki sejumlah keunggulan, seperti potensi peningkatan EPS akibat berkurangnya jumlah saham beredar, membantu menahan penurunan harga saham, serta memperkuat kepercayaan terhadap prospek jangka menengah dan panjang emiten.
Aksi ini juga kerap dipersepsikan sebagai bentuk perlindungan harga saat pasar bergejolak.
Aksi Buyback Saham Bernilai Jumbo Marak, Ini Dampaknya bagi Investor
Namun, Hendra mengingatkan buyback bukan jaminan harga saham akan langsung naik. “Jika sentimen pasar masih negatif atau kondisi makroekonomi memburuk, dampak buyback bisa terbatas,” ujarnya.
Abida memperkirakan tren buyback masih akan berlanjut sepanjang 2026, terutama jika volatilitas pasar tetap tinggi dan valuasi saham-saham berkapitalisasi besar masih tertekan.
Emiten dengan fundamental kuat, arus kas besar, serta kebutuhan belanja modal yang moderat, seperti konglomerasi, perbankan besar, dan emiten komoditas mapan, diprediksi paling aktif melakukan buyback.
Dari sisi rekomendasi, Hendra menyarankan speculative buy saham ASII dengan target harga Rp7.200 per saham. Ia juga merekomendasikan buy on weakness saham UNTR di kisaran Rp27.000 dengan target Rp29.000 per saham.
Anomali Buyback Saham DEWA, Tak Sesuai Parameter Pasar Berfluktuasi Secara Signifikan
Sementara itu, saham ERAA dinilai lebih cocok untuk strategi trading buy dengan target Rp470 per saham.
Sejalan dengan itu, Abida merekomendasikan beli saham ASII dan UNTR dengan target harga masing-masing Rp7.450 dan Rp32.000 per saham.
Adapun saham ERAA dinilai lebih tepat untuk perdagangan jangka pendek, mengingat nilai buyback yang relatif kecil serta karakter bisnis ritel gadget yang sensitif terhadap siklus konsumsi.