Kinerja indeks sektor barang baku melesat, cermati prospek saham-saham berikut

Ifonti.com JAKARTA. Indeks sektoral barang baku (IDX Basic Material) kembali unjuk gigi berkat lonjakan pertumbuhan kinerjanya pada bulan pertama tahun 2026. IDX Basic Materials pun berpotensi menjadi sektor primadona di pasar saham sepanjang tahun ini.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja IDX Basic Materials mampu tumbuh 18,53% year to date (ytd) ke level 2.439,501 hingga perdagangan Selasa (27/1). IDX Basic Materials kini menjadi indeks sektoral dengan pertumbuhan kinerja terbaik di pasar.

Chief Executive Officer Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, kinerja apik indeks sektor barang baku cukup dipengaruhi oleh harga emas yang melonjak signifikan ke kisaran level US$ 5.000 per ons troi seiring isu geopolitik yang masih membayangi pasar. Alhasil, harga saham-saham terkait komoditas emas di dalam indeks tersebut seperti ANTM, ARCI, dan BRMS ikut terungkit.

Ini Rekomendasi Saham Pendatang Baru di Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80

Selain itu, menguatnya harga nikel ke level US$ 18.000 per ton juga menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham emiten-emiten yang masuk dalam subsektor tersebut. Penguatan harga nikel tak lepas dari tingginya permintaan baterai kendaraan listrik yang diiringi oleh rencana pemangkasan produksi nikel di Tanah Air.

Berkaca dari kenaikan harga kedua komoditas ini, para investor berekspektasi bahwa kinerja keuangan emiten-emiten logam dan mineral akan meningkat, terutama dari sisi profitabilitas.

“Saham-saham dari subsektor kimia dasar maupun saham-saham logam dan mineral yang melakukan diversifikasi juga bisa dipantau,” ujar dia, Selasa (27/1/2026).

Di tengah sentimen harga emas dan nikel yang positif, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, subsektor industri semen dan kertas seperti SMGR, INTP, dan INKP diidentifikasikan sebagai saham yang tertinggal (laggard). Namun, mereka tetap memiliki fundamental solid dan valuasi menarik.

Alhasil, saham-saham seperti itu berpotensi mengalami rotasi modal seiring dengan pemulihan konsumsi domestik dan percepatan proyek infrastruktur pemerintah.

Harga Emas Menguat Mendekati US$ 5.100 di Tengah Ketidakpastian Kebijakan AS

Prospek saham-saham di indeks barang baku diproyeksikan tetap positif setidaknya sampai akhir semester I-2026. Hal ini didukung oleh ekspektasi siklus penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50-100 basis poin dan realisasi anggaran belanja infrastruktur yang masif.

Namun, terdapat sentimen penghambat yang perlu diperhatikan secara objektif, yaitu volatilitas nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 16.700–Rp 16.900 per dolar AS. Kondisi ini berisiko meningkatkan biaya produksi melalui inflasi impor bagi emiten manufaktur.

“Selain itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional, seperti penerapan tarif oleh AS dapat menjadi hambatan karena berpotensi memperlambat volume ekspor komoditas industri nasional,” ungkap Abida.

Senada, Praska bilang bahwa risiko berbaliknya harga komoditas juga bisa menjadi risiko bagi saham-saham di indeks barang baku. Kinerja indeks ini juga bisa dipengaruhi oleh realisasi penggunaan capital expenditure (capex) emiten-emiten sepanjang 2026 berjalan.

Saham-saham dari subsektor emas dan nikel terutama yang memiliki agenda hilirisasi berpotensi menjadi penopang indeks sektor barang bau sepanjang tahun ini. Hal ini dengan harapan bahwa kinerja fundamental mereka akan meningkat seiring permintaan solid dari produk olahan emas dan nikel yang dapat menopang margin.

Abida juga menyebut, saham-saham yang diprediksi jadi penopang utama indeks barang baku yakni terkait tambang logam seperti ANTM, MDKA, dan BRMS berkat potensi kenaikan volume produksi emas dan ekspansi fasilitas pengolahan mineral.

Di samping itu, subsektor industri dasar juga bisa menopang indeks ini dengan perwakilan dari SMGR dan INTP, asalkan keduanya mendapat katalis positif dari program pembangunan 3 juta rumah.

Simak Prospek Grup Lippo di tengah Kenaikan Harga Saham

Sektor barang baku juga berpeluang ditopang oleh saham-saham Grup Barito seperti BRPT dan TPIA yang terus memperkuat fundamentalnya lewat transformasi ke bisnis energi hijau dan petrokimia terintegrasi.

“Kinerja fundamental emiten-emiten ini berpotensi tumbuh positif seiring dengan perbaikan efisiensi operasional dan peningkatan permintaan domestik terhadap bahan baku industri,” terang dia.

Abida menyarankan beli beberapa saham unggulan di sektor barang baku yaitu ANTM, BRMS, dan MDKA dengan target harga masing-masing di level Rp 4.800 per saham, Rp 1.200 per saham, dan Rp 3.500 per saham.