
Ifonti.com – JAKARTA. Pergerakan harga emas dunia maupun Logam Mulia batangan diperkirakan masih akan sangat fluktuatif dalam sepekan ke depan.
Tekanan jangka pendek masih membayangi, namun risiko geopolitik global berpotensi kembali mengangkat harga emas sebagai aset lindung nilai.
Harga emas dunia pada akhir perdagangan Sabtu (30/1/2026) ditutup di level US$ 4.887 per ons troi atau turun 9,11% secara harian, ini cukup tajam dari posisi sebelumnya.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut, secara teknikal pelemahan masih berpeluang berlanjut jika tekanan berlanjut pada awal pekan.
Percepat Ekspansi, DGNS Mengalokasikan Belanja Modal (Capex) Rp 13 Miliar
“Support pertama emas dunia ada di US$ 4.805 per ons troi. Jika level ini jebol, maka support kedua berada di US$ 4.703, atau ada potensi penurunan sekitar US$ 100,” ujar Ibrahim, Sabtu (30/1/2026).
Sementara dari sisi penguatan, Ibrahim menilai resistance harga emas dunia pertama berada di level US$ 4.962 per ons troi, sedangkan resistance kedua di US$ 5.068 per ons troi dalam sepekan ke depan.
Sejalan dengan itu, di pasar domestik harga emas batangan Logam Mulia tercatat ditutup melemah di level Rp 2.860.000 per gram pada perdagangan Minggu (1/2/2026).
Ibrahim memperkirakan tekanan masih bisa berlanjut hingga akhir pekan ini.
“Jika berlanjut, support pertama Logam Mulia ada di Rp 2.800.000 per gram. Bahkan hingga Jumat atau Sabtu, ada potensi penurunan hingga Rp 180.000 ke level Rp 2.620.000 per gram,” jelasnya.
Erajaya (ERAA) Genjot Ekspansi Gerai Baru, Ini Prospek dan Rekomendasi Sahamnya
Namun, jika terjadi pembalikan arah, Ibrahim memproyeksikan resistance pertama Logam Mulia berada di Rp 2.940.000 per gram, dan resistance kedua di Rp 3.150.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan, penurunan tajam harga emas dunia dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh dua faktor utama.
Pertama, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya.
“Pasar bereaksi negatif karena rekam jejak Kevin Warsh yang cenderung mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga saat menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral AS. Ini bertolak belakang dengan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga rendah,” kata Ibrahim.
Faktor kedua datang dari dinamika politik domestik AS, menyusul demonstrasi besar terkait imigran ilegal di salah satu negara bagian basis Partai Demokrat.
Transparansi Bursa Meningkat: Data Pemegang Saham di Atas 1% Akan Dibuka
Situasi ini memicu wacana penangguhan pendanaan pemerintahan federal, yang turut menekan sentimen pasar keuangan global.
Meski demikian, Ibrahim menilai risiko geopolitik justru menjadi katalis utama yang berpotensi mengangkat harga emas kembali dalam waktu dekat.
Ketegangan di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, dan Iran dinilai berada pada titik rawan deadlock.
Selain itu, konflik Rusia–Ukraina yang terus memanas, serta potensi eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa yang mulai diberlakukan 1 Februari dengan tarif 15%, juga dinilai akan kembali mendorong permintaan emas sebagai safe haven.