Saham bank tahan di tengah gonjang-ganjing pasar, sampai kapan?

Ifonti.com – JAKARTA. Bulan Januari ditutup dengan berbagai kabar mengejutkan bagi pasar. Namun begitu, rupanya saham-saham perbankan berhasil bertahan menghindari zona merah. 

Berbagai kejadian mengguncang pasar pada pekan lalu. Di pertengahan minggu, tepatnya pada Rabu (28/1/2026) kemarin, Morgan Stanley Capital International (MSCI) menerapkan penangguhan sementara terhadap rebalancing indeks saham Indonesia. Imbasnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas 6,8% ke level 8.369,48 dan asing mencatatkan net sell sebesar Rp 6,17 triliun dalam sehari.

Di tengah ketegangan itu, berbagai petinggi pasar saham domestik pun memilih mundur dari jabatan. 

Yang pertama adalah Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Imam Rachman. Imam mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (30/1/2026) siang, tetapi rupanya itu tak menjadi guncangan besar. IHSG menutup perdagangan hari itu dengan penguatan 1,18% secara harian ke level 8.329.61. 

Saham-saham sektor perbankan juga terpantau lolos ke zona hijau. Bank berkapitalisasi pasar besar alias big banks kompak menguat secara harian, dengan penguatan terbesar terjadi pada saham PT Bank Mandiri Indonesia Tbk (BMRI) sebesar 4,10% menjadi Rp 4.820. 

Menyusul, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 2,78% secara harian menjadi Rp 7.400, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 1,58% menjadi Rp 4.490, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 0,79% menjadi Rp 3.810. 

Saham BBCA Dijual Asing Hingga Rp 8,1 Triliun, Tengok Target Saham Terbaru

Menurut Founder Republik Investor Hendra Wardana, ketahanan sektor perbankan ini ditopang oleh investor domestik berprofil besar yang melihat koreksi sebagai peluang akumulasi. Apalagi, secara fundamental perbankan nasional masih solid. 

“Margin bunga bersih relatif terjaga, kualitas aset stabil. Bank-bank besar juga punya peran strategis dalam menopang sistem keuangan,” papar Hendra kepada Kontan, Minggu (1/2/2026). 

Selain itu, menurutnya banyak saham perbankan yang secara teknikal sudah di area support kuat. Tak pelak, teknikal rebound muncul ketika tekanan jual asing mulai mereda. 

Di samping itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai sejumlah bank juga menikmati sentimen positif dari rencana buyback. 

Memang, pasca koreksi dalam pada Rabu (28/1/2026), terpantau ada tiga bank yang mengumumkan rencana buyback. 

Saham Bank Menghijau Pasca Tertekan, Analis Sebut Peluang Rebound Masih Terbuka

Yaitu BBCA, dengan nominal buyback rencananya sampai Rp 5 triliun selambatnya dalam 12 bulan pasca Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026, kemudian PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) sebesar Rp 60,65 miliar selambatnya pada 29 April 2026, dan BBNI sebesar Rp 1,5 triliun secara bertahap atau sekaligus paling lambat pada 8 Maret 2027. 

Nico menjelaskan, aksi buyback menunjukkan kepercayaan diri perusahaan terhadap fundamentalnya sendiri, serta optimisme perkembangan valuasi yang positif dalam masa yang akan datang. 

Pada gilirannya, itu memberikan ketenangan bagi pelaku pasar dan investor di tengah euforia panic selling. Namun begitu, itu tak serta-merta mengembalikan keyakinan pasar untuk jangka pendek hingga menengah. 

“Dengan situasi dan kondisi saat ini, para pelaku pasar dan investor masih mencari titik terang, arah berikutnya yang lebih jelas. Semua masih wait and see,” ujar Nico. 

Volatilitas Masih Bakal Tinggi

Hendra melihat risiko volatilitas masih membayangi pasar dalam waktu dekat, termasuk sektor perbankan. Salah satunya karena, pasca pasar ditutup Jumat (30/1/2026) lalu, tiga petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyusul mengumumkan pengunduran diri. 

Mereka adalah Ketua Dewan Komisaris (DK) OJK Mahendra Siregar, Deputi Komisioner Pengawas Emiten. Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, serta Wakil Ketua DK OJK Mirza Adityaswara. 

Menurut Hendra, dinamika perubahan di level regulator menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar. Muncul risiko koreksi lanjutan, apalagi kalau investor global menilai transisi kepemimpinan ini bisa mengganggu kesinambungan kebijakan dan tata kelola pasar. 

Ke depan, Hendra bilang ketahanan pasar bakal sangat dipengaruhi oleh kecepatan komunikasi kebijakan dari otoritas baru, kepastian arah reformasi pasar, serta sinyal yang diberikan kepada investor global bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Pun, ia melihat ketahanan masing-masing bank terhadap tekanan MSCI tak seragam. BBCA cenderung paling defensif berkat struktur kepemilikan yang stabil, basis investor jangka panjang yang kuat, serta kualitas fundamental terbaik di sektor perbankan. 

Saham BBCA Tertekan Aksi Jual Asing, Masihkah Layak Diakumulasi?

BMRI berada di posisi berikutnya dengan dukungan skala bisnis besar dan valuasi yang semakin menarik pasca koreksi. Sementara BBRI, meski prospek jangka panjangnya kuat, relatif lebih sensitif terhadap volatilitas karena bobot indeks yang besar dan eksposur ke segmen mikro. BBNI cenderung lebih fluktuatif karena komposisi kepemilikan dan likuiditas yang membuat pergerakannya lebih responsif terhadap perubahan sentimen global.

Di luar itu, risiko volatilitas tinggi juga datang dari kecenderungan pasar melakukan penyesuaian portofolio pada bulan Februari. 

“Februari secara historis memang cenderung menjadi bulan konsolidasi, bukan fase penguatan agresif. Dalam 10 tahun terakhir, meski peluang IHSG untuk naik di Februari mencapai sekitar 56%, rata-rata kinerjanya justru mencatatkan penurunan sekitar minus 0,87%,” jelas Hendra. 

Saat ini, Hendra bilang strategi yang rasional untuk kuartal pertama adalah selektif dan defensif. Menurutnya, saham perbankan besar dengan fundamental kuat masih layak dicermati, terutama ketika volatilitas dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi bertahap. 

Ia melihat BBCA tetap menarik dengan pendekatan beli selektif dan target harga di kisaran Rp 8.000. BBNI dapat diposisikan sebagai trading buy dengan target harga Rp 4.700 seiring potensi pemulihan sentimen dan valuasi yang relatif lebih murah.

Saham Big Banks Mulai Menguat Pasca Tekanan MSCI, BBCA Terangkat Rencana Buyback