
Ifonti.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan hingga akhir perdagangan hari ini. Senin (2/2/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 16.798 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ini membuat rupiah melemah 0,07% dibanding penutupan Jumat (30/1/2026) yang berada di Rp 16.798 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI) juga mencatat pelemahan tipis 0,02% ke posisi Rp 16.800 per dolar AS.
Sentimen MSCI dan The Fed Tekan Rupiah, Cek Prospeknya Selasa (3/2)
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi berpandangan bahwa pelemahan rupiah terjadi di tengah rilis sejumlah data ekonomi domestik terbaru, mulai dari kinerja neraca perdagangan hingga perkembangan inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari – Desember 2025 mencatat surplus kumulatif US$ 41,05 miliar. Surplus ini meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$ 31,04 miliar.
“Surplus ini dipicu oleh angka ekspor sepanjang Januari – Desember yang mencapai US$ 282,21 miliar, lebih tinggi dari impor kumulatif pada periode yang sama US$ 241,86 miliar,” ujar Ibrahim, Senin (2/2/2026).
Rupiah Masih Rawan Tertekan, Dibayangi Penguatan Dolar AS
Kemudian, BPS juga melaporkan laju inflasi tahun ke tahun (yoy) pada Januari 2026 tercatat mencapai 3,55%. Artinya, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.
Sementara dari sisi eksternal, sentimen datang dari pencalonan mantan gubernur Fed Kevin Warsh oleh Presiden AS Donald Trump untuk menggantikan ketua petahana Jerome Powell di pucuk pimpinan bank sentral AS.
Untuk Selasa (3/2/2026), rupiah diprediksi Ibrahim bakal bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.790 – Rp 16.830 per dolar AS.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.798 Per Dolar AS Hari Ini (2/2), Asia Bervariasi