Ekspansi fiber perkuat prospek Mitratel (MTEL), cek rekomendasi analis

Ifonti.com JAKARTA. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel terus memperkuat prospek pertumbuhan jangka menengah melalui ekspansi agresif jaringan serat optik (fiber)

Sejalan dengan itu, segmen serat optik MTEL mencatat pertumbuhan 23,9% YoY menjadi Rp 431 miliar hingga sembilan bulan pertama 2025.

Analis NH Korindo Sekuritas Leonardo Lijuwardi membidik kontribusi pendapatan segmen fiber diperkirakan dapat mencapai 6,2% dari total pendapatan, sejalan dengan ekspansi jaringan fiber. 

Dicatatnya hingga September 2025, MTEL telah mencatat total jaringan fiber sepanjang 55.593 km, dengan target penambahan 10.000 km sepanjang tahun 2025. 

Antisipasi Ketidakpastian Ekonomi, Cermati Strategi Investasi yang Bisa Dilakukan

Menurutnya, segmen fiber tetap menjadi mesin pertumbuhan utama ke depan sekaligus menutupi penurunan pendapatan segmen non-sewa menara. 

“Strategi Fiber-to-the-Tower (FTTT) terus menjadi fokus MTEL guna menangkap permintaan operator seluler dalam meningkatkan kualitas konektivitas,” ujar Leonardo dalam riset 2 Desember 2026.

Ada pun Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas berpendapat, penambahan jaringan fiber optik MTEL berperan dalam menopang kualitas pendapatan dan margin, dibandingkan mendorong pendapatan secara agresif.

“Fiber memberi kontrak jangka panjang, utilisasi stabil, dan margin lebih tinggi, sehingga ikut menjaga profitabilitas MTEL di tengah perlambatan pertumbuhan non-core,” ujar Sukarno kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).

Tak hanya itu saja, MTEL terus mempertahankan posisinya sebagai pemilik menara terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dengan total 40.102 menara. Per kuartal III 2025, jumlah tenant naik 1,8% QoQ dan 4,3% secara tahunan menjadi 61.987 tenant.

Dicatat Leonardo, pertumbuhan jumlah tenant tersebut terutama ditopang oleh ekspansi di wilayah luar Jawa, khususnya Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dari sisi sentimen positif, Sukarno juga menonjolkan beberapa katalis yang berpotensi menopang kinerja MTEL ke depan. 

Di antaranya adalah monetisasi fiber yang semakin optimal, beban bunga yang lebih rendah, peluang konsolidasi industri telekomunikasi, serta kebijakan dividen yang relatif stabil.

BEI Prioritaskan 49 Emiten Big Caps Penuhi Free Float 15%, Ini Emiten yang Potensial

Pun Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Gani menilai dampak merger XL Axiata (EXCL) relatif paling kecil terhadap kinerja MTEL. 

Eksposur pendapatan MTEL terhadap EXCL tercatat hanya sekitar 15%, jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan menara lain yang memiliki kontribusi pendapatan dari EXCL di atas 30%.

Kata Gani, MTEL juga berada pada posisi yang diuntungkan jika siklus pelonggaran kelanjutan moneter pada tahun 2026. Pasalnya, perseroan telah melakukan penyesuaian struktur pendanaan dengan mengalihkan sebagian besar utang berbunga tetap menjadi utang berbunga mengambang,

Namun demikian, sejumlah risiko juga perlu dicermati investor. Tekanan risiko utama berasal dari potensi melambatnya pertumbuhan penyewa seiring lambatnya ekspansi operator seluler.  Selain itu, tertundanya suku bunga dapat menahan penurunan beban bunga perusahaan.

“Di sisi lain, perkembangan teknologi baru juga berpotensi mendisrupsi model bisnis menara telekomunikasi dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Gani dalam riset 4 Desember 2025.

Sukarno juga menyebut ketergantungan MTEL terhadap Telkomsel sebagai penyumbang pendapatan utama masih menjadi tantangan. 

Selain itu, persaingan dengan sesama operator menara seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga berpotensi menekan pertumbuhan.

  MTEL Chart by TradingView  

“Risiko lainnya datang dari potensi gangguan teknologi, seperti Open RAN dan satelit, serta faktor eksternal seperti regulasi dan pergerakan suku bunga,” imbuh Sukarno.

Lebih lanjut Leonardo memproyeksikan pendapatan MTEL pada tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp 9,62 triliun, meningkat sekitar 2,4% dibandingkan estimasi 2025 yang sebesar Rp 9,39 triliun.

Dari sisi bottom line, laba bersih MTEL pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai Rp 2,18 triliun, tumbuh sekitar 2,3% dibandingkan estimasi laba 2025 sebesar Rp 2,13 triliun.

Dengan berbagai faktor di atas, Leonardo merekomendasikan investor untuk Overweight saham MTEL dengan target Rp 700 per saham. 

Ada pun Gani memberi rekomendasi hold MTEL dengan target Rp 650 per saham. Sementara Sukarno merekomendasikan beli MTEL dengan target Rp 735 per saham.