Asosiasi DPLK: Kenaikan alokasi saham dana pensiun perlu diiringi literasi peserta

Ifonti.com JAKARTA. Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) angkat bicara mengenai rencana pemerintah yang menaikkan batas atas alokasi saham untuk dana pensiun dari 8% menjadi 20%. Asal tahu saja, keputusan alokasi investasi berada di tangan peserta DPLK masing-masing.

Mengenai hal itu, Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja mengatakan rencana tersebut berpeluang membuat DPLK menambah jumlah alokasi di saham, meski keputusan investasi ada di tangan para peserta. Dengan catatan, melakukan literasi kepada para peserta mengenai penempatan di saham.

“Realistis. Namun, kuncinya adalah literasi. Sebab, pilihan investasi ada di tangan peserta. Tantangan kami adalah mengedukasi masyarakat bahwa porsi saham yang tepat dapat memberikan potensi return jauh lebih tinggi dalam jangka panjang,” katanya kepada Kontan, Rabu (4/2).

Mengintip Strategi Prudential Indonesia Dorong Kinerja Perolehan Laba pada 2026

Tondy berpendapat jika literasi meningkat dan pengelolaan di bursa makin transparan, porsi dana pensiun di pasar modal akan tumbuh secara alami tanpa mengabaikan aspek kehati-hatian.

Sementara itu, Asosiasi DPLK juga angkat bicara mengenai prospek Return on Investment (RoI) industri pada 2026. Tondy memproyeksikan RoI industri DPLK tetap stabil di kisaran 6,5% hingga 7%. Guna mendorong kinerja RoI, dia mengatakan DPLK perlu menerapkan metode Life Cycle Fund, terutama bagi peserta usia muda. 

“Dengan metode itu, peserta muda diarahkan pada instrumen dengan imbal hasil tinggi, yang secara otomatis akan bergeser ke instrumen aman seiring bertambahnya usia demi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keamanan dana,” tuturnya.

Sebagai informasi, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, RoI industri DPLK mencapai 6,78% per November 2025. Angkanya naik cukup tinggi, dibandingkan posisi per November 2024 yang sebesar 5,56%. 

Jasindo Melihat Peluang dari Target Investasi Pengembangan EBT di Indonesia