
Ifonti.com JAKARTA. Wall Street berhasil rebound pada perdagangan Jumat (waktu setempat) setelah pekan yang berat akibat aksi jual saham-saham teknologi.
Namun, optimisme investor tetap tertahan menyusul anjloknya saham Amazon setelah raksasa e-commerce tersebut mengumumkan lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 dan Nasdaq yang sarat saham teknologi menguat setelah tiga hari berturut-turut mengalami penurunan.
Saham Amazon (AMZN) merosot 9% setelah perusahaan memproyeksikan kenaikan capex lebih dari 50% tahun ini. Lonjakan belanja tersebut mempertegas tren pengeluaran besar-besaran di sektor AI yang juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan “Magnificent Seven” lainnya.
Sikap skeptis investor terhadap belanja AI semakin menguat setelah Microsoft (MSFT) mengumumkan rencana capex jumbo pada akhir bulan lalu, yang membuat anggaran investasi perusahaan-perusahaan raksasa teknologi menjadi sorotan pasar.
Bursa Asia Kompak Melemah pada Jumat (6/2) Pagi, Mengekor Penurunan Wall Street
Rencana peningkatan belanja dari Alphabet (GOOGL) juga memperdalam aksi jual saham teknologi pada Kamis, yang mendorong Nasdaq ditutup di level terendah dalam lebih dari dua bulan.
“Seperti halnya inovasi teknologi besar lainnya, selalu ada fase euforia yang sangat tinggi, lalu diikuti periode penilaian yang lebih hati-hati,” ujar Kristina Hooper, Chief Market Strategist Man Group.
“Pasar kini tidak hanya menilai siapa yang akan diuntungkan oleh AI—seperti saham perangkat lunak yang tertekan—tetapi juga para hyperscaler, dan sekarang menghukum perusahaan yang menggelontorkan capex besar untuk AI,” lanjutnya.
Saham Alphabet turun 0,7%, sementara Microsoft naik 1%. Nvidia (NVDA), yang diperkirakan akan diuntungkan dari lonjakan belanja AI dan menjadi perusahaan terakhir dari kelompok Mag 7 yang melaporkan kinerja, melonjak 3%.
Saham Software Pulih, Namun Masih Tertekan Pekanan
Saham perusahaan perangkat lunak dan layanan data juga mulai pulih setelah tertekan sepanjang pekan akibat kekhawatiran bahwa perkembangan pesat AI dapat menggerus permintaan terhadap model bisnis tradisional.
Saham ServiceNow (NOW) naik 0,7% dan CrowdStrike (CRWD) menguat 2,6%. Meski demikian, indeks S&P 500 Software and Services masih mengarah pada penurunan lebih dari 8% dalam sepekan, yang menjadi kinerja terburuk sejak Maret 2020.
Pada pukul 09.33 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,08% ke 49.437,32. S&P 500 menguat 0,88% ke 6.858, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,77% ke 22.713,67.
Indeks volatilitas CBOE (VIX), yang kerap disebut sebagai “fear gauge” Wall Street, turun untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir, melemah 2,54 poin ke level 19,23.
Saham Chip dan Indeks Teknologi Stabil
Saham-saham semikonduktor yang sebelumnya terdampak aksi jual teknologi juga mulai stabil. Saham Broadcom (AVGO) naik 4,8%, sementara indeks teknologi S&P 500 menguat 2,8%.
Reli perdagangan berbasis AI, yang menjadi motor utama reli pasar saham tahun lalu, kini menghadapi ujian berat. Aliran dana mulai berpindah ke sektor defensif seperti consumer staples dan telekomunikasi.
Rotasi ini terjadi bersamaan dengan berkurangnya minat terhadap aset berisiko, di mana harga bitcoin tercatat turun 50% dari puncaknya pada Oktober lalu.
Wall Street Anjlok Tajam, Terseret Pelemahan Saham Teknologi Besar
Indeks Russell 2000 yang berisi saham kapitalisasi kecil naik 2,2%. Indeks S&P 600 small-cap dan S&P 400 mid-cap masing-masing mencatat potensi kenaikan lebih dari 1% dalam sepekan. Sementara itu, indeks S&P 500 value naik lebih dari 1% sepanjang pekan.
Musim Laporan Keuangan dan Data Ekonomi Jadi Perhatian
Sekitar 80% dari 270 perusahaan S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan kuartalan berhasil melampaui ekspektasi analis, menurut data LSEG. Dalam kondisi normal, tingkat keberhasilan melampaui ekspektasi biasanya berada di kisaran 67%.
Di sisi lain, saham Molina Healthcare (MOH) anjlok 29% setelah perusahaan asuransi kesehatan itu memproyeksikan laba 2026 jauh di bawah ekspektasi pasar. Centene (CNC) sebenarnya memperkirakan laba tahunan di atas estimasi, tetapi sahamnya tetap turun 6,2%.
Saham Roblox (RBLX) melonjak lebih dari 5% setelah platform gim tersebut memproyeksikan pemesanan (bookings) tahun fiskal 2026 di atas ekspektasi Wall Street.
Sementara itu, data inflasi terbaru menunjukkan ekonomi AS masih cukup tangguh. Namun, sejumlah indikator pasar tenaga kerja mengindikasikan tekanan yang masih berlanjut, sehingga perhatian investor kini tertuju pada rilis laporan tenaga kerja (payrolls) Januari yang sempat tertunda dan dijadwalkan dirilis pekan depan.