
Ifonti.com – JAKARTA. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) diproyeksikan akan dapat berkah dari proyek strategis Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.
Asal tahu saja, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan pihaknya memiliki target agar industri dalam negeri dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal.
Untuk mencapai hal tersebut, Danantara tengah menjalankan beberapa proyek strategis, dengan sektor baja menjadi prioritas perbaikan saat ini.
Langkah konkret yang diambil adalah melakukan intervensi langsung terhadap kinerja Krakatau Steel untuk memperbaiki kondisi perusahaan.
Tekanan Global Picu Aksi Jual Asing di SBN, Diproyeksi Mereda Usai Kuartal I-2026
Dony mengklaim, langkah intervensi tersebut mulai menunjukkan hasil positif yang terlihat dari kinerja keuangan KRAS.
“Krakatau Steel hari ini sudah memasuki fase menuju sehat, secara finansial Danantara sudah melakukan intervensi dan juga perbaikan terhadap kesehatan daripada perusahaan kita Krakatau Steel,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Rabu (4/2/2026).
Selain itu Danatara juga berinisiatif untuk membangun pabrik slab di Cilegon, Banten. Kapasitas produksi pabrik yang dibangun tanpa investasi bersama mitra luar itu hingga 3 juta ton per tahun.
Sayangnya, Dony belum bisa menyebutkan nilai investasi proyek jumbo tersebut.
Pembangunan itu bertujuan untuk memutus ketergantungan impor bahan baku baja yang masih mendominasi pasar domestik. Sehingga, nantinya industri baja Tanah Air menjadi terintegrasi, mulai dari hulu ke hilir.
Corporate Secretary Krakatau Steel Fedaus mengatakan, sejak Januari 2026, KRAS mendapat informasi ada pemberian dua proyek hilirisasi dari Presiden Prabowo Subianto.
Pertama, proyek pengolahan pasir besi untuk pembuatan bahan baku untuk produksi slab. Kedua, proyek nikel yang dipakai untuk bahan baku pembuatan stainless steel.
“Proyek realisasi ini memang masuk dalam program percepatan oleh Prabowo, yang mana diberikan kepada Danantara Asset Management (DAM),” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Ramadan Jadi Harapan Rebound Saham Darya-Varia (DVLA), Cek Rekomendasinya
Saat ini, progres proyek ada di tahap feasibilities study (fs) yang akan berlangsung selama dua bulan ke depan.
Harapannya, tambahan produksi dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan domestik yang pada gilirannya akan mengurangi impor baja.
Fedaus bilang, kebutuhan baja di dalam negeri meningkat sekitar 5-6% setiap tahunnya. Sebagai gambaran, pada tahun 2025 kebutuhan baja sebanyak 18 juta – 19 juta ton. Padahal, produksi baja di dalam negeri hanya sekitar 14 juta ton.
“Ini melindungi industri baja di dalam negeri dengan anti-dumping dan safeguard. Lalu, ini bisa mengutilisasi bahan baku yang ada di dalam negeri agar bisa dipakai secara maksimal oleh industri di Tanah Air,” katanya.
Dengan satu pabrik eksisting di Cilegon saat ini, KRAS menargetkan produksi sebanyak 1,2 juta – 1,3 juta ton di tahun 2026. Nilai ini belum termasuk tambahan dari proyek pabrik slab baru bersama Danantara.
Sebagai gambaran, produksi baja KRAS di tahun 2025 sebanyak 936 ribu ton 2025.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menjelaskan, kinerja KRAS memiliki potensi pembalikan kinerja menjadi lebih positif apabila restrukturisasi berjalan dengan baik. Namun hal ini membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Hal yang akan menjadi katalis menarik untuk kinerja KRAS salah satunya adalah apabila baja impor bisa dikurangi.
KRAS Chart by TradingView
“Ini tipikal perusahaan yang akan menarik ketika ada corporate action atau ada pembalikan signifikan dari sisi kinerja keuangan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, intervensi Danantara bisa berdampak positif untuk kinerja KRAS dalam jangka panjang. Sebab, kehadiran pabrik slab itu bisa menjamin pasokan bahan baku hulu.
“Namun, memang ada risiko beban konstruksi di awal. Peran Danantara penting untuk memastikan pendanaan murah, supaya neraca KRAS tidak tertekan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.
Di tahun 2026, kinerja KRAS diproyeksikan bakal membaik. Ini lantaran sentimen dukungan negara via Danantara yang menaikan kepercayaan kreditur, walaupun ada tantangan dari banjir impor baja yang bisa menekan margin.
“Sentimen positif untuk KRAS berasal dari perlindungan tarif bea masuk antidumping. Sementara, negatifnya dari beban utang lama yang masih tinggi,” ungkapnya.
Wafi pun merekomendasikan beli untuk KRAS dengan target harga Rp 450 per saham.
Cek Rekomendasi Saham Sektor Poultry untuk Senin (9/2)
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menambahkan, bantuan intervensi dari Danantara dan pembangunan pabrik slab bisa meningkatkan EBITDA KRAS.
“Pabrik itu bisa untuk kebutuhan proyek infrastruktur di tengah upaya mengatasi dumping baja impor,” katanya kepada Kontan, Jumat.
Nafan pun merekomendasikan speculative buy untuk KRAS dengan target harga Rp 358 per saham.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan saham KRAS saat ini ada di level support Rp 308 per saham dan resistance Rp 352 per saham.
Herditya merekomendasikan buy on weakness untuk KRAS dengan target harga di Rp 372 – Rp 400 per saham.