
Ifonti.com – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar valuta asing (valas) utama berlangsung bervariasi di tengah tren pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar (DXY).
Melansir Trading Economics, DXY pada Minggu (8/2) pukul 16.45 WIB berada di level 97,6 atau melemah 9,6% secara tahunan (YoY).
Pasangan valas EUR/USD di 1,18, naik 14% secara YoY, valas GBP/USD 1,36 naik 9,8% YoY.
Sementara itu, valas AUD/USD 0,70 naik 11,8% secara YoY, valas USD/JPY 157,2 naik 3,8% YoY, dan valas USD/CHF di level 0,78 terkoreksi 14,7% YoY.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, perbedaan arah pergerakan sejumlah mata uang utama dipengaruhi oleh faktor fundamental masing-masing negara, terutama ekspektasi kebijakan moneter dan dinamika ekonomi domestik.
Sentimen Sell America Tekan Indeks Dolar, Penguatan Valas Asia Masih Terbatas
“Untuk EUR dan GBP keduanya dipengaruhi oleh prospek pemangkasan suku bunga,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Sementara itu, dolar Australia (AUD) juga sempat mengalami tekanan meskipun bank sentral Australia baru saja menaikkan suku bunga. Lemahnya harga komoditas menjadi faktor utama yang membebani pergerakan AUD.
“AUD walau bank sentral mereka baru saja menaikkan suku bunga, namun harga komoditas yang lemah menekan,” kata Lukman.
Adapun yen Jepang (JPY) masih bergerak volatil. Di satu sisi, yen mendapat dukungan dari kekhawatiran potensi intervensi otoritas Jepang.
Namun di sisi lain, kebijakan moneter longgar yang diperkirakan akan tetap berlanjut menekan mata uang tersebut.
“JPY masih roller coaster, didukung oleh kekhawatiran intervensi, namun kebijakan longgar Sanae yang diperkirakan akan mengukuhkan posisinya minggu ini dalam snap election menekan yen,” jelasnya.
Valas Global Bergerak Beragam Usai Ancaman Tarif Trump ke Eropa soal Greenland
Untuk franc Swiss (CHF), Lukman menyebut pergerakannya relatif terbatas.
Mata uang ini sesekali mendapat dukungan dari permintaan aset safe haven, namun kerap bergerak searah dengan indeks dolar.
“CHF sendiri tidak banyak perkembangan, kadang didukung permintaan safe haven, namun sering mengikuti pergerakan DXY secara umum,” imbuhnya.
Di tengah kondisi tersebut, Lukman menilai AUD berpotensi menjadi salah satu mata uang yang menarik untuk dicermati ke depan, dengan catatan investor tetap waspada terhadap sentimen global.
“Yang terbaik mungkin AUD apabila melihat tren komoditas yang akan masih kuat tahun ini, terlebih inflasi yang mulai kembali naik memicu harapan RBA untuk kembali menaikkan suku bunga,” ujarnya.
Proyeksi Valas Komoditas 2026: CAD Paling Menarik, NZD Paling Rentan
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa AUD merupakan mata uang yang sensitif terhadap risiko. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan dinamika global, termasuk potensi kembali munculnya strategi sell America trade yang dapat menekan dolar AS.
Untuk proyeksi semester I 2026, Lukman membidik kisaran pergerakan sejumlah valas utama sebagai berikut: EUR/USD di level 1,22 – 1,23, GBP/USD di kisaran 1,38 – 1,40, USD/JPY di rentang 150 – 160, serta USD/CHF di kisaran 0,77 – 0,78.