
Ifonti.com – JAKARTA. Prospek kinerja PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dinilai masih konstruktif, seiring agresivitas perseroan dalam mengembangkan jaringan fiber optik yang menjadi mesin pertumbuhan baru bisnis ke depan.
Saat ini, MTEL telah mencatatkan jaringan fiber mencapai 55.593 kilometer hingga kuartal III-2025. Perseroan pun menargetkan penambahan sekitar 10.000 kilometer jaringan fiber hingga akhir 2025.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai ekspansi fiber menjadi langkah strategis bagi MTEL untuk memperkuat sumber pertumbuhan di luar bisnis sewa menara.
Menurutnya, jaringan fiber semakin dibutuhkan oleh operator seluler untuk meningkatkan kapasitas jaringan sekaligus mendukung implementasi teknologi 5G.
Tekanan Jual Asing di SBN Dipicu Ketidakpastian Global, Namun Bersifat Jangka Pendek
“Fiber ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas jaringan, terutama untuk 5G. Secara teknis juga lebih efisien dibandingkan hanya mengandalkan sewa menara,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (6/2/2026).
Ia menambahkan, pengembangan fiber optik menjadi sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.
Infrastruktur fiber dinilai krusial untuk menjamin kualitas konektivitas antarpulau dan mendukung pemerataan layanan digital.
Dari sisi makro dan industri, Nafan melihat penurunan suku bunga acuan ke depan berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja MTEL. Penurunan bunga diharapkan dapat menekan beban bunga pinjaman sehingga berdampak positif terhadap laba bersih perseroan.
Selain itu, fokus pelaku industri terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pengembangan ekosistem digital juga dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap emiten infrastruktur telekomunikasi seperti MTEL.
Melansir laporan keuangan per September 2025, MTEL membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 1,54 triliun. Ini tumbuh 0,61% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 1,53 triliun.
MTEL Chart by TradingView
Dari sisi top line, pendapatan anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini turun tipis. Secara akumulasi, Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp 6,88 triliun per September 2025.
Dengan berbagai katalis tersebut, Nafan memandang peluang pertumbuhan laba MTEL pada 2026 tetap terbuka, meski peningkatannya akan sangat bergantung pada efektivitas ekspansi fiber dan kondisi makroekonomi.
Terkait saham MTEL, Nafan menilai prospeknya masih menarik untuk dicermati oleh investor jangka menengah hingga panjang, seiring penguatan fundamental bisnis dan arah pengembangan infrastruktur digital nasional.
Namun, saat ini Nafan merekomendasikan saham MTEL untuk wait and see. Sebab secara teknikal, pergerakan saham MTEL dinilai masih berada dalam fase bearish consolidation.