
Ifonti.com – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan baru surat utang atau obligasi korporasi pada 2026 akan berada di kisaran Rp 154 triliun – Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp 175,77 triliun.
Proyeksi tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor pendorong, mulai dari kebutuhan refinancing yang masih tinggi hingga prospek penurunan yield obligasi.
Kendati demikian, target ini masih di bawah capaian tahun 2025. Penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2025 telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high. Pefindo melaporkan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari – Desember 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, tumbuh 89,87% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 149,7 triliun.
XLSmart (EXCL) Proyeksikan Trafik Layanan Naik Hingga 30% di Periode Lebaran
Chief Economist Pefindo Suhindarto menyampaikan, kondisi pasar di awal tahun memang kurang kondusif bagi penerbitan surat utang korporasi.
“Memang di satu sisi kondisi di awal tahun ini akhirnya membuat kondisi kurang favorable di pasar surat utang korporasi, tapi sebenarnya kalau kita tarik lagi ke belakang, khususnya di awal tahun 2025 kemarin, sebenarnya kondisinya juga tidak terlalu jauh berbeda, yang mana dibayangi ketidakpastian global, dan dinamika politik AS,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (11/2/2026).
Dari sisi biaya dana (cost of fund), Suhindarto menilai kondisinya juga belum lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Jika melihat yield obligasi negara tenor 10 tahun sebagai acuan, level saat ini masih relatif lebih murah dibandingkan posisi awal 2025.
Terkait sentimen perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif, Pefindo menilai hal tersebut belum menjadi alasan untuk merevisi proyeksi penerbitan obligasi korporasi tahun ini.
Ia menambahkan, perubahan outlook oleh Moody’s lebih didorong oleh faktor risiko kebijakan dan komunikasi kebijakan yang dinilai berpotensi mempengaruhi pengelolaan fiskal. Namun, hal tersebut masih sebatas risiko dan belum mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi secara signifikan.
Lebih lanjut Pefindo mencatat, nilai surat utang jatuh tempo pada 2026 masih cukup besar, mencapai Rp 162,72 triliun. Kondisi ini membuka ruang bagi korporasi untuk melakukan refinancing dan jadi faktor pendorong penerbitan obligasi korporasi di 2026.
Pasca akuisisi, Leyand International (LAPD) Siapkan Mandatory Tender Offer
“Terlebih lagi ada peluang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut di tahun ini, maka diperkirakan kebutuhan untuk refinancing bisa jadi akan dicukupi dari penerbitan surat utang korporasi juga ya, sehingga kebutuhan untuk penerbitan masih akan tinggi,” jelasnya.
Dari sisi makroekonomi, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan menguat juga menjadi katalis positif. Kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi, sehingga meningkatkan kebutuhan pendanaan untuk modal kerja maupun investasi.
Selain itu, tren penurunan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor lima tahun turut menopang prospek penerbitan. Yield SUN 5 tahun tercatat sebesar 6,2% pada 2025 dan diproyeksikan turun menjadi 5,8% pada 2026. Penurunan yield ini berpotensi menekan biaya dana (cost of fund) dan membuat premi risiko kembali menarik bagi investor.
Permintaan investor juga dinilai masih solid. Investor institusi, seperti manajer investasi, disebut mulai memburu imbal hasil lebih tinggi di pasar surat utang korporasi dibandingkan surat utang pemerintah.
Meski demikian, Pefindo mengingatkan sejumlah faktor risiko yang dapat mempengaruhi realisasi penerbitan tahun ini.
Risiko geopolitik dan kebijakan ekonomi global berpotensi memicu fluktuasi yield sepanjang tahun. Tekanan nilai tukar rupiah akibat depresiasi dan dinamika tarif ekspor juga dapat meningkatkan risiko inflasi dan mempengaruhi sentimen pasar.
Di sisi lain, tingginya pasokan surat utang pemerintah dapat menjadi sentimen bagi surat utang korporasi. “Sekarang kebutuhan pemerintah untuk pendanaan berbagai program prioritas ini relatif tinggi, nilai utang yang jatuh tempo juga relatif lebih tinggi. Ini akhirnya bisa menjadi faktor negatif bagi pricing yield yang cenderung lebih kaku untuk turun ke depan,” lanjutnya.
Mandat Obligasi Korporasi Naik di Awal Tahun Capai Rp 71,35 Triliun
Selain itu, sektor keuangan, khususnya perbankan dan multifinance, yang selama ini menjadi kontributor utama pasar obligasi korporasi, berisiko mengalami perlambatan bisnis. Ini turut berpotensi menekan penerbitan obligasi korporasi.
Preferensi investor terhadap surat utang berperingkat A ke atas juga dinilai membatasi ruang bagi emiten dengan peringkat lebih rendah, seperti BBB ke bawah.
Risiko terakhir yakni potensi perbaikan pasar saham bisa mendorong sebagian perusahaan beralih ke pendanaan berbasis ekuitas seiring dengan prospek IHSG yang lebih baik.