Penerbitan obligasi korporasi 2026 bisa lampaui Rp 200 triliun, ini faktornya

Ifonti.com – JAKARTA. Di tengah kondisi pasar surat utang yang diwarnai tekanan di awal tahun 2026 ini, tren penerbitan obligasi korporasi diproyeksi masih akan positif pada 2026.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan baru surat utang atau obligasi korporasi pada 2026 akan berada di kisaran Rp 154 triliun – Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp 175,77 triliun. Proyeksi tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor pendorong, mulai dari kebutuhan refinancing yang masih tinggi hingga prospek penurunan yield obligasi.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana menilai, penerbitan obligasi korporasi masih berpeluang untuk meningkat di tahun ini. Selain didukung peningkatan literasi keuangan masyarakat yang memperkuat permintaan, pemahaman emiten terhadap alternatif pendanaan dengan biaya dana lebih kompetitif juga semakin baik.

Bitcoin Turun 3%, Analis Nilai Momentum Belum Cukup Tembus US$69.000

Ada pun penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2025 telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high. Pefindo melaporkan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari – Desember 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, tumbuh 89,87% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 149,7 triliun. Fikri menilai capaian tersebut didorong beberapa faktor.

Pertama, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang cukup agresif hingga 125 basis poin sepanjang tahun lalu. Sementara itu, penurunan suku bunga kredit relatif lebih terbatas, sehingga emiten memanfaatkan momentum untuk memperoleh pendanaan dengan kupon lebih rendah melalui pasar obligasi.

Kedua, preferensi investor yang cenderung lebih berhati-hati. Di tengah volatilitas pasar saham, sebagian investor memilih instrumen dengan risiko lebih terukur seperti obligasi korporasi, sehingga permintaan meningkat.

Ketiga, tingginya kebutuhan refinancing. Pada 2025, nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo mencapai kisaran Rp 140 triliun. Sementara itu pada 2026, jumlah surat utang yang akan jatuh tempo diperkirakan lebih besar, yakni sekitar Rp 162,72 triliun, sehingga membuka ruang penerbitan baru.

Dengan jumlah surat utang jatuh tempo yang lebih besar tahun ini dan potensi kebutuhan refinancing yang meningkat, bukan tidak mungkin realisasi penerbitan bisa kembali tinggi.

Hasil Pertemuan Kedua dengan MSCI:BEI Bakal Terbitkan Shareholders Concentration List

“Saya pikir mungkin nilai bisa di atas Rp 200 triliunan sih seharusnya di tahun ini untuk penerbitan obligasi korporasi,” ujar Fikri kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

Ia juga menambahkan, perlambatan penurunan suku bunga kredit dibandingkan penurunan yield obligasi dapat mendorong lebih banyak emiten baru masuk ke pasar obligasi korporasi sebagai alternatif pendanaan, bahkan sebelum mempertimbangkan pendanaan berbasis ekuitas melalui pasar saham.

Dengan kombinasi kebutuhan refinancing yang besar, potensi pelonggaran suku bunga lanjutan, serta permintaan investor yang tetap solid, prospek pasar obligasi korporasi 2026 dinilai masih cukup terjaga di tengah tekanan pasar surat utang global.