Rekor obligasi korporasi 2025 bisa terulang di 2026, analis optimistis

Ifonti.com – JAKARTA. Tekanan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada awal tahun 2026 yang diwarnai capital outflow dinilai turut berdampak pada pasar obligasi korporasi. Namun, prospeknya masih relatif terjaga.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, pergerakan obligasi korporasi pada dasarnya berkorelasi dengan obligasi pemerintah, terutama dari sisi arah yield. Namun, karakter investor di kedua pasar tersebut berbeda.

“Obligasi korporasi memang relate dengan government bonds. Tapi government lebih likuid dan kepemilikan asingnya lebih aktif, sehingga kalau ada arus keluar itu langsung terasa. Di obligasi korporasi, mayoritas dimiliki investor domestik, jadi pergerakannya biasanya lebih pelan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

IHSG Diproyeksikan Melanjutkan Penguatan Kamis (12/2), Cek Kata Analis

Menurutnya, meski yield obligasi korporasi mengikuti pergerakan yield SBN sebagai acuan, tekanan harga di pasar sekunder cenderung tidak sedalam obligasi pemerintah ketika terjadi gejolak.

Secara fundamental, ia menilai prospek pasar obligasi pada 2026 masih melanjutkan tren positif 2025. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi usaha dan perputaran ekonomi diperkirakan meningkat. Nah, salah satu sumber pembiayaan tersebut berasal dari penerbitan obligasi korporasi.

Ada pun penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2025 telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high. Pefindo melaporkan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari – Desember 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, tumbuh 89,87% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 149,7 triliun. 

Untuk 2026, Ramdhan menilai capaian penerbitan obligasi berpotensi mendekati level tahun lalu, meski tantangan pada awal tahun cukup terasa akibat dinamika suku bunga dan ketidakpastian global.

“Awal tahun ini memang ada sedikit gangguan karena suku bunga sempat berbalik arah. Tapi kalau tren suku bunga bisa kembali melandai, kebutuhan pembiayaan untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi 6% akan tetap besar. Itu bisa menopang penerbitan obligasi,” katanya.

Waspada Potensi Sanksi Uni Eropa, Begini Proyeksi Rupiah Besok (12/2)

Ia juga melihat potensi penurunan suku bunga lanjutan akan menjadi sentimen positif. Di tengah suku bunga yang lebih rendah, biaya dana (cost of fund) bagi emiten menjadi lebih murah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, sehingga mendorong minat penerbitan.

Namun demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah faktor sebelum berinvestasi, seperti durasi obligasi, peringkat (rating), sektor industri, serta rekam jejak (track record) penerbit dalam mengelola utang dan memenuhi kewajibannya.

Seirama, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana menilai, penerbitan obligasi korporasi masih berpeluang untuk meningkat. Selain didukung peningkatan literasi keuangan masyarakat yang memperkuat permintaan, pemahaman emiten terhadap alternatif pendanaan dengan biaya dana lebih kompetitif juga semakin baik.

Tak hanya itu saja, tingginya kebutuhan refinancing juga jadi faktor. Pada 2025, nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo mencapai kisaran Rp 140 triliun. Sementara pada 2026, jumlah surat utang yang akan jatuh tempo diperkirakan lebih besar, yakni sekitar Rp 162,72 triliun, sehingga membuka ruang penerbitan baru.

Dengan jumlah surat utang jatuh tempo yang lebih besar tahun ini dan potensi kebutuhan refinancing yang meningkat, bukan tidak mungkin realisasi penerbitan bisa kembali tinggi.

“Saya pikir mungkin akan ada nilai yang bisa di atas Rp 200 triliunan sih seharusnya di tahun ini untuk penerbitan obligasi korporasi,” ujar Fikri kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).