
Ifonti.com – JAKARTA. Momentum Tahun Baru Imlek, Ramadhan, hingga Lebaran pada kuartal I 2026 dinilai menjadi katalis musiman bagi emiten sektor konsumer, mulai dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), serta PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY).
Kenaikan rata-rata upah minimum regional (UMR) nasional juga berpotensi memperkuat daya beli masyarakat.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai rangkaian momentum tersebut berpotensi mendorong volume penjualan perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) dan ritel modern.
Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Proyeksi Harga Emas Sepekan Kedepan
“Momentum festive ini berpotensi mendorong volume penjualan FMCG dan ritel modern terutama pada AMRT, ICBP, dan MYOR, melalui kenaikan traffic dan konsumsi rumah tangga,” ujar Azis kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).
Sementara itu untuk CMRY, menurutnya, dampaknya cenderung lebih moderat karena menyasar segmen premium.
Meski demikian, ia menilai efek festive season tetap positif, hanya saja sifatnya lebih musiman dan tidak sepenuhnya berkelanjutan sepanjang tahun.
Dari sisi katalis 2026, Azis melihat stabilisasi harga bahan baku menjadi faktor penting yang dapat memperbaiki margin emiten konsumer.
Selain itu, potensi penurunan suku bunga serta ekspansi distribusi juga bisa menjadi pendorong kinerja. Namun, ia mengingatkan sejumlah risiko yang patut dicermati, seperti fluktuasi harga komoditas, pelemahan rupiah, serta potensi tekanan daya beli setelah periode festive berakhir.
Terkait kinerja, mayoritas emiten konsumer sempat mencatatkan penurunan laba bersih pada periode sebelumnya.
Per kuartal III 2025, ICBP membukukan laba bersih sebesar Rp7,11 triliun sepanjang Januari-September 2025, turun 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sama halnya, AMRT juga membukukan laba bersih pada kuartal III 2025 sebesar Rp 2,31 triliun. Turun 3,5% YoY bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 sebesar Rp 2,40 triliun.
Begitu pula MYOR mencatat penurunan laba bersih sebesar 8,23% YoY menjadi Rp 1,84 triliun sepanjang periode sembilan bulan pertama 2025.
Sementara itu, hanya CMRY yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,60 triliun sepanjang hingga akhir kuartal III 2025, meningkat 38,51% YoY dari tahun lalu sebesar Rp 1,15 triliun.
Kendati demikian, Azis menilai peluang perbaikan masih terbuka apabila tekanan biaya mulai mereda dan volume penjualan meningkat pada semester I-2026.
Dengan berbagai katalis di atas, Azis saat ini merekomendasikan trading buy pada CMRY dengan target harga di kisaran Rp 5.850 – Rp 5.900 dan support di area Rp 5.250 – Rp 5.200 per saham.
Momen Imlek-Ramadan, Begini Prediksi Arah IHSG dan Rekomendasi Saham