Dividen BUMN 2026, Intip Kisi-Kisi Danantara

Ifonti.com , JAKARTA — Sovereign Wealth Fund (SWF)  Daya Anagata Nusantara menyatakan besaran dividen BUMN untuk tahun buku 2026 belum diputuskan seiring proses penyelarasan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) terhadap kebutuhan investasi setiap holding.

COO Danantara Indonesia Dony Oskaria menjelaskan bahwa kebijakan dividen BUMN ke depan akan menyesuaikan kebutuhan masing-masing holding. Hal ini selaras dengan proses konsolidasi perusahaan pelat merah yang telah berjalan.

Berbeda dengan mekanisme sebelumnya, Dony menyebut penetapan dividen tidak lagi bersifat tetap seperti pola setoran rutin langsung ke negara. 

: Antam (ANTM) dan PTBA Kembali Sandang Status BUMN, Danantara Ungkap Alasannya

Saat ini, kebijakan dividen akan mempertimbangkan kebutuhan strategis dari dua entitas holding Danantara, yakni PT Danantara Asset Management (Persero) dan PT Danantara Investment Management (Persero).

“Sekarang kami lihat saja berapa kebutuhan dari dua holding tersebut. Kebutuhannya belum terlihat karena RKAP lagi disusun. Selesai RKAP nanti baru kelihatan kebutuhannya,” ujar Dony di Jakarta, Rabu (18/2/2026). 

: : Ramalan Fitch Soal BUMN, Tangguh meski Setoran Dividen ke Danantara Bakal Melambung

Sebelumnya, Danantara diketahui menargetkan laba BUMN bakal mencapai sekitar Rp350 triliun untuk tahun buku 2026. Nilai tersebut mengalami kenaikan dari realisasi tahun lalu yang mencapai sekitar Rp285 triliun. 

Dony kala itu mengungkapkan bahwa laba BUMN secara normalisasi sejatinya menyentuh angka Rp332 triliun pada 2025. Namun, usai melakukan penyesuaian penurunan nilai aset atau impairment sekitar Rp55 triliun, laba bersih BUMN turun ke kisaran Rp280 triliun hingga Rp285 triliun.

: : Danantara Resmi Mulai Proyek Peternakan Ayam Terintegrasi, ID Food Janji Serap Panen Rakyat

“Tahun 2026, kami memasukkan rencana kerja kurang lebih Rp350 triliun laba. Namun, saya tentu mengekspektasikan lebih. Jadi, sebetulnya BUMN itu memberikan kontribusi yang baik,” ujar Dony pada akhir Januari 2026. 

Adapun kinerja itu didorong oleh konsolidasi menyeluruh. Danantara diketahui tengah merombak postur BUMN melalui evaluasi fundamental bisnis, mulai dari analisis sumber pendapatan, margin EBITDA, hingga efisiensi struktur biaya.

Salah satunya adalah penyederhanaan jumlah entitas BUMN dari total sekitar 1.000 entitas, menjadi kurang lebih 300 perusahaan. Langkah ini diambil guna menciptakan skala usaha yang lebih besar, efisien, dan memiliki daya saing.

 

PROYEKSI FITCH

Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memproyeksikan adanya tren peningkatan dividen yang signifikan di bawah kendali Danantara. 

Fitch memperkirakan total penerimaan dividen dari perusahaan pelat merah utama dapat melampaui Rp140 triliun pada 2026. Nilai tersebut melonjak tajam dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp86 triliun.

Dalam laporan terbarunya, Fitch mencatat bahwa pembentukan Danantara akan membawa perubahan pada pola pendanaan pemerintah dengan penyuntikan modal akan lebih selektif dan berorientasi pada hasil yang lebih tinggi. 

Kendati rasio pembayaran dividen atau payout ratio diprediksi meningkat, Fitch menyatakan perusahaan pelat merah dinilai masih memiliki ruang permodalan dan daya ungkit yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas keuangan. 

“Fitch juga memperkirakan pemerintah akan mendorong peningkatan dividen dari BUMN, yang kemungkinan akan disalurkan melalui PT Danantara Investment Management guna mempercepat investasi pada sektor-sektor prioritas pemerintah,” tulis laporan tersebut, dikutip Rabu (18/2/2026). 

Sementara itu, Fitch juga melihat adanya pergeseran strategi penyuntikan modal pemerintah yang kini lebih menyasar sektor strategis seperti perumahan dan mineral. Sebaliknya, dukungan modal untuk sektor yang kurang krusial, seperti konstruksi infrastruktur diproyeksikan mulai dikurangi.

Meski demikian, peringkat dan dukungan terhadap BUMN utama diprediksi tetap stabil berkat jaminan dan subsidi pemerintah yang terus berjalan.