
Ifonti.com JAKARTA — Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Washington D.C., Amerika Serikat, membawa serangkaian capaian strategis bagi perekonomian nasional, mulai dari penurunan tarif perdagangan, penguatan investasi mineral kritis, hingga komitmen pembelian energi senilai US$15 miliar atau sekitar Rp252,94 triliun.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan hal tersebut melalui unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet, Sabtu (21/2/2026). Dia menegaskan diplomasi langsung yang dilakukan Presiden Prabowo membuahkan hasil konkret di tengah padatnya agenda internasional Board of Peace.
Menurut Teddy, di antara lebih dari 15 kepala negara dan pemerintahan yang hadir, Presiden Prabowo menjadi satu-satunya pemimpin yang menggelar pertemuan bilateral langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Tarif Turun, 1.819 Produk Bebas Bea
Capaian pertama adalah penurunan tarif perdagangan hampir 50%, dari sebelumnya 32% menjadi 19%. Selain itu, sebanyak 1.819 produk unggulan Indonesia memperoleh fasilitas tarif 0%, khususnya dari sektor pertanian dan industri strategis.
Produk-produk seperti kopi, kakao, minyak kelapa sawit, hingga komponen industri berpeluang memperluas penetrasi pasar di Amerika Serikat.
Pemerintah menilai kebijakan ini akan memperkuat daya saing ekspor nasional sekaligus membuka ruang ekspansi lebih luas di pasar global.
Investasi Mineral Kritis Tetap Berdaulat
Indonesia juga membuka peluang investasi bagi perusahaan AS di sektor mineral kritis. Namun, pemerintah menegaskan seluruh kerja sama tetap mengacu pada regulasi nasional, menjaga kedaulatan sumber daya alam, serta mendukung agenda hilirisasi dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Prinsip tersebut ditegaskan sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang menempatkan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Energi US$15 Miliar dan Kerja Sama Teknologi
Di sektor energi, pemerintah mengalokasikan pembelian energi dari AS senilai US$15 miliar atau sekitar Rp252,94 triliun. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional dan keseimbangan neraca perdagangan.
Teddy menekankan langkah ini bukan bentuk penambahan ketergantungan impor, melainkan penataan ulang sumber pasokan dari berbagai negara mitra sesuai kebutuhan domestik.
Dalam konteks ini, Pertamina juga merintis kerja sama teknologi dengan mitra AS guna mengoptimalkan produksi ladang minyak nasional.
Saham Freeport Ditargetkan Naik ke 63%
Kesepakatan lain menyangkut sektor pertambangan. Pemerintah menargetkan peningkatan porsi saham Indonesia di Freeport Indonesia dari 51% menjadi 63% pada 2041.
Skema tersebut mencakup peningkatan penerimaan negara dan royalti bagi Papua, sebagai bagian dari komitmen memperkuat manfaat ekonomi bagi daerah penghasil.
Di sektor migas, komunikasi lanjutan dilakukan dengan ExxonMobil terkait perpanjangan operasi hingga 2055, dengan rencana tambahan investasi sekitar US$10 miliar untuk menjaga dan meningkatkan produksi nasional.
Teddy menegaskan seluruh proses negosiasi, baik di sektor tambang maupun migas, dilakukan dengan tetap berlandaskan konstitusi dan kepentingan nasional.
Oleh-oleh diplomasi Presiden Prabowo dari Washington ini dinilai bukan sekadar simbolik, melainkan paket kebijakan konkret yang menyentuh perdagangan, investasi, energi, dan kedaulatan sumber daya alam.
Dengan kombinasi penurunan tarif, ekspansi pasar, penguatan kepemilikan aset strategis, dan komitmen investasi energi, pemerintah berharap fondasi ekonomi nasional semakin kokoh di tengah dinamika global.
“Pemerintah menegaskan bahwa seluruh negosiasi, baik di sektor tambang maupun migas, dilakukan dengan tetap mengacu pada Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang menempatkan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” pungkas Teddy.