BI luncurkan PIDI, ajak generasi muda wujudkan inovasi digital

Ifonti.com , JAKARTA – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan Inisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) Hackathon x Digdaya 2026, Senin (23/2/2026), sebagai platform nasional untuk mengakselerasi ekosistem inovasi digital dan pengembangan talenta muda di bidang ekonomi keuangan digital.

Dalam soft launching tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan program ini dirancang untuk mendorong generasi muda meninggalkan warisan nyata melalui inovasi yang berdampak bagi perekonomian Indonesia.

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama baik, yaitu legacy,” ujarnya dalam acara peluncuran di Grha Bhasvara Icchana Dome, Kantor Pusat Bank Indonesia, Senin (23/2/2026).

Perry menyebut perjalanan QRIS sebagai bukti konkret bahwa inovasi digital yang bermula dari sebuah mimpi mampu memberikan dampak nyata. Sebelum 2019, BI bermimpi memiliki sistem pembayaran digital yang terintegrasi secara nasional. Kini, QRIS mencatat transaksi hingga 60 juta per bulan dengan nilai Rp1,8 kuadriliun dan telah dapat digunakan di sejumlah negara, diantaranya Malaysia, Singapura, Thailand, dan Korea Selatan, serta segera merambah China, India, dan Arab Saudi.

“Itulah berawal dari mimpi yang menjadi aksi dan kolaborasi menjadi realitas,” katanya.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) BI Dicky Kartikoyono, menjelaskan, program PIDI merupakan kolaborasi antara BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan sektor industri digital. PIDI diposisikan sebagai policy enabler yang menjembatani kebijakan publik dengan kebutuhan industri melalui pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir.

Pada 2026, PIDI menargetkan partisipasi sekitar 800 tim atau lebih dari 3.000 peserta. Pendaftaran proposal kelompok dibuka hingga 27 Maret 2026.

“Kami yakin ini akan lebih. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, kami mendapatkan sekitar 2.700 peserta dari 743 proposal. Tahun ini akan naik karena lingkup dan rencana kegiatannya lebih menarik dan menantang,” ujar Dicky.

Rangkaian program akan berlangsung dalam beberapa tahap seleksi. Dari 800 proposal yang masuk, BI akan menyeleksi 480 tim untuk masuk kelas praktisi yang berlangsung pada Juli-Agustus 2026. Di kelas ini, peserta akan dibekali keterampilan digital sekaligus materi kewirausahaan untuk mengembangkan startup.

Selanjutnya, 480 tim akan diciutkan menjadi 80 tim yang dinilai paling siap untuk kemudian dipertemukan dengan investor melalui business matching. Dari jumlah tersebut, 10 tim terbaik akan mendapatkan penghargaan Hackathon dari BI, sementara 16 tim inovasi terbaik secara keseluruhan akan menjadi luaran utama program tahun ini.

“Meskipun tidak juara, proposal mereka bisa saja relevan dengan kebutuhan bisnis tertentu. Ini merupakan pertemuan strategis antara talenta dan industri saling melengkapi,” jelas Dicky.

PIDI bertumpu pada tiga pilar strategis, yakni pemetaan kebutuhan dan market intelligence, eksplorasi dan pengujian inovasi (innovation experimentation), serta pengembangan talenta digital. Fokus program tahun ini diarahkan pada tiga area prioritas, yakni penguatan ketahanan dan inovasi keuangan; peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, dan penciptaan lapangan kerja; serta percepatan layanan publik, ekonomi kreatif, dan ekspor jasa digital.

Gita Prasulistiyono Putra, founder Dewantara AI yang pernah mengikuti program serupa, mengaku merasakan manfaat besar dari pendampingan intensif oleh para mentor berpengalaman, baik dari sisi teknis maupun bisnis.

“Mentor bisnisnya memang sudah berpengalaman di bisnis, teknisnya juga teknis. Jadi lebih terarah buat kami. Terima kasih banyak untuk Bank Indonesia dan OJK,” ungkapnya.

Program PIDI merupakan bagian dari implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, khususnya pilar inovasi, sekaligus kontribusi BI dalam mendukung agenda transformasi ekonomi digital nasional menuju Indonesia Emas 2045.