Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) memperketat pengawasan terhadap pasar keuangan global menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pasca-serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan pihaknya akan merespons situasi secara tepat demi memastikan nilai tukar rupiah tetap stabil dan bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional di tengah sentimen risk-off.
“Sejalan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah pascaserangan AS ke Iran yang mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global, Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
1. BI siapkan sejumlah langkah intervensi
BI juga tetap aktif menjaga likuiditas di pasar valas. Langkah stabilisasi dilakukan melalui intervensi pada transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta memantau pergerakan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
“Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi,” ujar Erwin.
Selain intervensi langsung, BI berkomitmen mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang ada. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga.
Tertekan Konflik di Timur Tengah, Rupiah Melemah Mengawali Pekan Ini 2. Rupiah melemah mengawali perdagangan pekan ini
Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS dalam mengawali perdagangan awal pekan, Senin (2/3/2026). Rupiah dibuka di posisi Rp16.812 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.03 WIB, rupiah sudah berada di level Rp16.830 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 43,00 poin atau sekitar 0,26 persen setelah ditutup di angka Rp16.759 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan.
Sejak awal tahun, rupiah mencatatkan pelemahan sebesar 0,81 persen. Sementara itu, dalam kurun waktu satu tahun terakhir atau 52 pekan, nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp16.079 hingga level terlemahnya di Rp17.224 per dolar AS.
Untuk perdagangan hari ini, pengamat pasar uang, Lukman Leong, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif. Dia memproyeksikan kurs rupiah akan bergerak dalam rentang harga Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS.
3. Perang di Timur Tengah bikin investor pilih cari aman
Lukman memproyeksikan rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahannya terhadap dolar AS sepanjang hari ini, imbas sentimen risk off yang dipicu oleh eskalasi atau peningkatan ketegangan perang di Timur Tengah.
Istilah risk off merujuk pada kondisi ketika para investor cenderung merasa tidak aman dan memilih untuk menghindari aset-aset berisiko, seperti mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti konflik bersenjata, pelaku pasar biasanya lebih memilih mengalihkan modal mereka ke aset yang dianggap lebih stabil, seperti dolar AS atau emas.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS karena sentimen risk off dari eskalasi perang di Timur Tengah,” ujar Lukman.
Rupiah Ditutup Makin Lesu ke Rp16,787 per Dolar AS