Produksi LNG Qatar terhenti, kawasan Asia terancam krisis energi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran kembali mengguncang pasar energi global. 

Melansir Bloomberg, Qatar menghentikan produksi fasilitas ekspor gas alam cair (Liquified Natural Gas atau LNG) terbesar di dunia pada Senin (2/3) setelah mendapat serangan dari Iran. 

Bloomberg menyebut penutupan fasilitas tersebut membuat harga gas Eropa melonjak sebesar 39%, kenaikan tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, dalam jangka pendek apabila pasokan LNG terganggu secara masif maka negara-negara dunia akan melakukan pengalihan bahan bakar (fuel switching) demi menjaga ketahanan listrik. Menurutnya, hal tersebut pernah terjadi di Eropa selama perang Rusia-Ukraina.

Terus Melemah, Rupiah Makin Dekat ke Rp 17.000 Per Dolar AS di Siang Ini (4/3)

Selain Eropa, Wahyu menilai negara-negara di wilayah Asia akan terkena dampak dari penghentian produksi LNG Qatar karena 85% – 89% ekspor Qatar ditujukan ke Asia. 

“India akan sangat terdampak dengan persentase ketergantungan 42% – 52% karena India sudah mulai melakukan rasionalisasi gas untuk sektor industri dan pupuk. Pakistan juga akan mengalami krisis energi akut karena 40% energinya tergantung pada impor Qatar,” kata Wahyu saat dihubungi Kontan pada Rabu (4/3/2026).

Adapula, negara China yang akan terdampak secara signifikan tetapi masih memiliki cadangan batubara domestik yang sangat besar untuk kompensasi. 

Sementara itu, Taiwan dengan persentase ketergantungan pada impor Qatar sebesar 25% dan sudah menyatakan akan meningkatkan penggunaan batubara jika gangguan berlanjut. 

Nilai Tokenisasi Properti Melalui Blockchain Diprediksi Tembus US$ 4 Triliun di 2035

Di sisi lain, Indonesia sebagai eksportir batubara termal terbesar di Indonesia berada di posisi sangat strategis tetapi juga menantang.

Kenaikan harga batubara akan meningkatkan devisa negara dan keuntungan emiten tambang nasional. Akan tetapi, negara Indonesia juga harus memenuhi Domestic Market Obligation (DMO) agar listrik di dalam negeri tidak terganggu oleh lonjakan biaya bahan bakar.