
Menteri Pertanian Amran Sulaiman memastikan ekspor perdana beras premium untuk jemaah haji dapat tiba dengan aman di Arab Saudi. Hal ini menanggapi terjadinya perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.
Pada Senin (2/3) lalu, salah satu kilang di Ras Tanura milik Saudi Aramco telah terdampak perang tersebut.
“Insyaallah (beras) aman sampai Jeddah (Arab Saudi),” kata Amran dalam acara Ceremonial Ekspor Beras Befood Nusantara untuk Kebutuhan Jemaah Haji Indonesia, Rabu (4/3).
Indonesia telah memulai ekspor beras ke Arab Saudi untuk kebutuhan jemaah haji dan umrah hari ini. Total volume yang diekspor mencapai 2.280 ton berupa beras premium merek Befood Nusantara.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut beras ekspor tersebut akan mulai diberangkatkan menuju Jeddah pada Sabtu (7/3). Meski begitu, dia menyebut pemerintah masih memantau kondisi perang yang terjadi di Timur Tengah.
Bulog telah berkirim surat terkait ekspor ini kepada TNI, Badan Intelijen Negara, dan Kementerian Luar Negeri. Surat tersebut ditujukan untuk asesmen keberangkatan ekspor menuju Jeddah.
Saat ditanya peluang ekspor tiba terlambat di lokasi tujuan, dia menyebut hal tersebut bergantung pada informasi yang dilaporkan oleh tiga lembaga di atas.
“Kami menunggu informasi lebih dari asesmen dari tiga institusi tersebut,” ujarnya.
Nilai Ekspor Rp 38 Miliar
Rizal juga mengatakan, beras dengan kadar pecahan 5% itu memiliki nilai ekspor Rp 38 miliar. Angka tersebut hanya untuk harga beras, di luar untuk biaya pemberangkatan dan lainnya.
Dia menyebut harga jual yang dipatok untuk beras itu sebesar Rp 16.000 per kg. “Karena ini untuk jemaah haji kita, jadi ini subsidi pemerintah. (Kalau tidak disubsidi) harganya seperti beras premium biasa,” kata Rizal.
Dia menuturkan, subsidi ekspor perdana itu bertujuan sebagai alat promosi. Dia ingin Bulog bisa berjualan dengan kualitas baik serta harga murah, agar bisa menarik orang untuk mengonsumsi beras Indonesia.
Terdapat dua pihak importir asal Arab Saudi yang akan memasarkan produk tersebut. Bulog berharap ke depan ekspor beras premium terlaksana secara berkelanjutan. Dengan jumlah 2 juta jemaah umrah setiap tahun, itu akan menjadi peluang besar bagi Bulog.
“Namun, untuk ke depan konsepnya komersial tidak seperti sekarang (subsidi),” ucapnya.
Ekspor beras untuk haji ini sesuai dengan hasil rapat koordinasi terbatas dan permintaan Kementerian Haji. Sebab, perkiraan jumlah jemaah haji tahun ini mencapai 215 ribu orang.