
Ifonti.com – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat. Mengutip Coin Market Cap Jumat (6/3/2026), harga Bitcoin naik 4,28% ke level US$ 70.859.
Analis Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan, dinamika geopolitik yang ada mungkin masih relatif tidak pasti. Data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan akan menjadi variabel yang sangat diperhatikan investor. Menurutnya, saat ini level resistance di US$ 75.000 menjadi target krusial untuk terjadinya rally lanjutan.
“Tercapainya target tersebut di minggu ini dengan volume beli yang cukup solid berpotensi membawa tren positif yang ada ke teritori berikutnya,” ujar Fahmi dalam keterangan resmi, Jumat (6/3/2026).
Kinerja Emiten Tambang Terimbas Tekanan Harga Batubara, Intip Prospeknya pada 2026
Fahmi mengatakan, ancaman terbesar dari konflik di Timur Tengah adalah dampak lanjutannya terhadap inflasi global. Jika ketegangan terus berlanjut dan harga minyak menembus US$ 100 per barel, tekanan harga bisa menjalar ke seluruh penjuru ekonomi dunia.
“Dalam skenario tersebut, bank sentral akan berada di posisi yang sangat sulit karena harus menjaga pertumbuhan ekonomi di satu sisi, namun juga menekan inflasi di sisi lain. Ketidakpastian ini berpotensi berdampak luas dan sistemik terhadap pasar keuangan global,” jelas Fahmi.
IHSG Melemah 2,61% ke 7.509 pada Sesi I Jumat (6/3), BRPT, INKP, MAPI Top Losers LQ45
Di tengah gejolak ini, pertanyaan yang muncul adalah apakah Bitcoin dan aset kripto dapat berfungsi sebagai safe haven alternatif. Fahmi memberikan pandangan yang berimbang. Fahmi bilang, Bitcoin dan beberapa aset kripto berkapitalisasi besar memiliki karakteristik yang menarik sebagai alternatif, mengingat posisi mereka yang tidak terafiliasi dengan negara atau sistem keuangan terpusat mana pun.
“Namun realitanya, mayoritas investor masih memandang kripto sebagai instrumen berisiko (risk-on), sehingga potensi tersebut untuk saat ini masih terbatas,” ungkap Fahmi.