
Ifonti.com JAKARTA. Danantara Investasi Management (DIM) bakal mengenggam 30% saham dari perusahaan hasil joint venture dengan para pemenang lelang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di setiap wilayah. Saat ini DIM sudah memilih dua perusahaan asal China untuk menggarap proyek PLTSa di Bekasi dan Denpasar. Harapannya proyek ini sudah bisa mengelola sampah menjadi listrik pada akhir 2027 atau awal 2028.
Proses pemilihan mitra dimulai pada bulan November 2025, ketika pemerintah mengumumkan kesempatan bagi perusahaan untuk mengajukan proposal. Calon mitra diundang untuk menyampaikan rencana teknis dan finansial mereka, yang kemudian dievaluasi secara menyeluruh. Pada bulan Januari 2026, evaluasi dilakukan oleh lebih dari 60 evaluator yang terdiri dari para ahli dari dalam dan luar negeri.
Proses evaluasi mencakup beberapa aspek penting misalnya evaluasi ini menilai teknologi yang ditawarkan oleh mitra dan kesesuaiannya dengan regulasi yang ada. Pemerintah menekankan pentingnya penggunaan teknologi terbaru yang dapat mengelola volume sampah yang signifikan dengan efisien.
Lalu, pengalaman calon mitra dalam mengelola proyek serupa menjadi faktor penentu. Evaluator mempertimbangkan rekam jejak perusahaan dalam menjalankan teknologi pengelolaan sampah.
Kemudian, aspek sosial dan lingkungan juga menjadi fokus utama. Evaluasi mempertimbangkan bagaimana proyek ini akan memengaruhi masyarakat sekitar dan dampaknya terhadap lingkungan.
Setelah melalui proses evaluasi yang ketat, Wangling Environment Co.,Ltd terpilih sebagai mitra untuk Bekasi, sedangkan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd ditunjuk untuk Denpasar. “Keduanya masih boleh mengikuti lelang di tahap dua yang diadakan di 9 sampai 12 Kota lagi anti,” terang Fadli Rahman Direktur Investasi Danantara, di kantornya, (6/3).
Kata dia, kedua perusahaan ini memiliki reputasi yang solid dan telah berhasil mengelola proyek pengelolaan sampah di negara asal mereka, China. Nantinya, kata Fadli akan dibentuk anak usaha PT Danantara Investasi Management (DIM) yang memegang 30% saham dari perusahaan patungan dengan para pemenang lelang PLTSa.”Nanti mereka (pemenang) 70% dan anak usaha DIM 30% saham,” imbuh dia.
Dengan terpilihnya mitra, proyek ini kini memasuki tahap rencana pembangunan. Groundbreaking untuk proyek ini dijadwalkan berlangsung antara bulan April hingga Juni 2026, dan diharapkan dapat selesai pada akhir 2027 atau awal 2028. Proyek ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga menawarkan berbagai manfaat tambahan bagi masyarakat.
Sementara itu, manfaat yang bisa didapat dari Pembangunan PLTSa adalah adanya pengembangan Eco Park, misalnya di Bekasi yang akan menjadi ruang terbuka hijau yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga menyediakan tempat rekreasi bagi masyarakat.
Lalu fasilitas pendidikan, proyek ini juga akan menyediakan fasilitas pendidikan bagi masyarakat. Warga akan memiliki kesempatan untuk berkunjung dan belajar tentang proses pengelolaan sampah, dari pengumpulan hingga pengolahan menjadi energi. “Semacam edukasi soal sampah dari awal sampai jadi PLTSa,” ujar dia.
Selanjutnya, adalah manfaat adanya peningkatan kualitas hidup, dengan adanya proyek ini, diharapkan kualitas hidup masyarakat sekitar akan meningkat. Pengelolaan sampah yang lebih baik dapat mengurangi risiko penyakit dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih. “Proyek ini akan memiliki kontrak 30 tahun dengan PLN dalam menjual listrik,” terang dia.
Dia menjelaskan, proyek ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, sekaligus menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sementara itu, Pemerintah daerah (Pemda) diharapkan berperan aktif dalam mendukung proyek ini. Tanggung jawab Pemda mencakup penyediaan lahan dan memastikan ketersediaan pasokan sampah yang konsisten. Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemda, dan masyarakat, proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif dalam menangani masalah sampah yang semakin meningkat di Indonesia.
Meskipun proyek ini menjanjikan banyak manfaat, ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satu tantangan utama adalah memastikan pasokan sampah yang stabil untuk mendukung operasi proyek. Oleh karena itu, evaluasi terus-menerus dan mitigasi risiko akan sangat penting.
Langkah mitigasi yang akan dilakukan kata Fadli adalah komitmen pasokan sampah, maka Pemda dan mitra harus berkomitmen untuk menyediakan pasokan sampah yang cukup. “Pemerintah juga harus mempertimbangkan program-program baru yang dapat meningkatkan volume sampah,” ucap dia.
Kemudian, monitoring dan evaluasi, kata Fadli, proyek ini harus mengikuti skema monitoring dan evaluasi yang ketat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa proyek berjalan sesuai rencana dan dapat memberikan hasil yang diharapkan.
Terakhir partisipasi masyarakat yang juga dilibatkan dalam proyek ini, baik dalam aspek pendidikan maupun pengelolaan sampah di tingkat lokal. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik akan berkontribusi pada keberhasilan proyek ini.
Fadli menilai dengan pemilihan mitra dan rencana pembangunan yang matang, proyek pengelolaan sampah menjadi energi di Denpasar dan Bekasi menunjukkan komitmen Indonesia untuk mengatasi masalah lingkungan. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Proyek ini diharapkan menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan mitra, kita dapat membangun lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Adapun kontrak dari perjanjian penjualan listrik kepada PLN bisa mencapai 30 tahun dengan harga listrik dari setiap unit PLTSa sebesar US$ 20 sen per kWh.