
Ifonti.com – JAKARTA. Seiring ramainya aksi jual yang dilakukan asing, harga saham perbankan mencatatkan koreksi dalam sepekan terakhir.
Pada penutupan perdagangan Jumat (6/8/2026), saham bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks kompak parkir di zona merah. Dalam sepekan terakhir, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 6,14% menjadi Rp 3.670, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 5,59% menjadi Rp 4.980.
Pun, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 2,95% menjadi Rp 4.270, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,44% menjadi Rp 7.000.
Jika ditelisik, tren ini sejalan dengan derasnya outflow asing. Dalam sepekan, net sell asing di BMRI mencapai Rp 241,58 miliar, BBRI sebesar Rp 492,21 miliar, BBNI sebesar Rp 459,39 miliar, dan BBCA sebesar Rp 707,31 miliar.
Reksa Dana Saham Syariah Kinclong pada Awal Tahun 2026, Ditopang Penguatan IHSG
Menurut Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer, catatan net sell itu terjadi lantaran investor asing masih mencermati arah suku bunga global hingga pergerakan yield obligasi. Dalam situasi ini, rotasi dana ke aset lain yang dianggap lebih menarik dalam jangka pendek kerap terjadi.
Secara umum, Miftahul melihat tekanan pada saham perbankan memang tak terhindarkan belakangan ini. Namun, itu lebih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan aksi profit taking karena sebelumnya sektor ini sempat mengalami kenaikan.
“Tapi katalis dari geopolitik dan tensi perang yang sedang memuncak lebih mendominasi,” ujar Miftahul kepada Kontan, akhir pekan lalu.
Koreksi IHSG di Akhir Januari 2026, Kinerja Unitlink Saham Masih Naik Tipis
Namun, meski asing keluar, Miftahul bilang meningkatnya minat investor domestik menunjukkan fundamental bank besar Indonesia masih dipandang kuat. Hanya saja, pergerakan harga memang masih cukup sensitif terhadap arus dana asing karena porsinya di pasar masih besar.
Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, ia bilang strategi yang relatif bijak diambil investor adalah akumulasi bertahap pada bank berfundamental kuat. Saham bank pilihan Miftahul sendiri jatuh kepada BBRI dan BMRI, masing-masing dengan target harga akhir tahun Rp 4.500 dan Rp 6.250.