
Ifonti.com – JAKARTA. Pola pemanfaatan tunjangan hari raya (THR) pada tahun ini diperkirakan mengalami perubahan.
Jika secara historis masyarakat menggunakan dana THR untuk meningkatkan konsumsi menjelang Idulfitri, situasi geopolitik global yang memanas—khususnya di kawasan Timur Tengah—membuat sebagian masyarakat memilih bersikap lebih hati-hati dalam mengelola dana tambahan tersebut.
Kondisi ini berpotensi mendorong masyarakat, terutama investor, untuk menahan belanja dan mengalihkan dana THR sebagai bantalan keuangan (buffer). Instrumen investasi dengan tingkat likuiditas tinggi dan risiko relatif rendah pun diprediksi menjadi tujuan utama.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa secara historis dana THR memang tidak langsung mengalir ke pasar modal. Hal ini karena sebagian besar masyarakat masih memprioritaskan kebutuhan konsumsi menjelang Hari Raya.
Harga Nikel Melemah Awal Maret 2026, Prospek Emiten Tambang Tertekan
Menurutnya, bahkan investor yang sudah aktif di pasar saham biasanya hanya mengalokasikan sebagian kecil dari dana tambahan tersebut untuk investasi. Sementara sebagian besar dana tetap disimpan guna menjaga likuiditas jangka pendek.
“Dalam kondisi pasar saat ini, kami melihat investor juga cenderung lebih berhati-hati, walaupun banyak saham fundamental yang sebenarnya sudah cukup terdiskon,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).
Pandangan serupa disampaikan Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus. Ia menilai meningkatnya ketidakpastian akibat konflik global dapat membuat masyarakat menahan konsumsi.
“Dengan adanya tensi geopolitik, yang membuat masyarakat khawatir, tampaknya belanja akan ditahan. Mengingat kenaikan harga minyak bisa menjalar ke bahan pokok dan sektor lainnya,” ucap Nico.
Dalam situasi tersebut, dana yang dimiliki investor cenderung dialihkan ke instrumen yang lebih aman. Salah satu pilihan yang dilirik adalah obligasi, mengingat instrumen ini menawarkan kepastian imbal hasil meskipun kupon yang diberikan mengalami penurunan.
Nico bahkan memperkirakan sukuk ritel seri SR024 yang mulai dipasarkan pada Jumat (6/3) hingga 15 April 2026 berpotensi mendapatkan respons positif dari investor. Menurutnya, seri SR024–T5 menjadi pilihan menarik karena menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.
Jika dibandingkan dengan ORI029–T5 yang hanya memberikan kupon sebesar 5,80%, sukuk ritel perdana pada 2026 dengan tenor lima tahun tersebut dinilai masih lebih kompetitif. Kendati demikian, Nico mengingatkan agar investasi dilakukan menggunakan dana yang tidak digunakan untuk kebutuhan utama.
Prospek Saham Ritel Menguat Saat Ramadan–Lebaran, Ini Rekomendasi Analis
Di sisi lain, Liza menyarankan investor untuk menerapkan strategi pengelolaan dana yang lebih konservatif dalam memanfaatkan THR. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menjaga porsi kas dalam jumlah cukup besar terlebih dahulu.
Investor tetap dapat mulai masuk ke pasar saham, tetapi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dengan pemilihan saham yang sangat selektif.
“Pendekatan bertahap ini penting untuk mengantisipasi volatilitas jika harga energi global melonjak dan memicu tekanan inflasi,” ucapnya.
Selain saham, investor juga dapat mempertimbangkan instrumen yang lebih defensif seperti obligasi pemerintah atau reksa dana pendapatan tetap guna menjaga stabilitas portofolio investasi.
“Intinya, THR sebaiknya tidak langsung diinvestasikan seluruhnya, tetapi tetap dikelola dengan prinsip money management yang disiplin agar memastikan kebutuhan Lebaran aman terlebih dahulu,” tuturnya.