Perang Iran dengan AS–Israel guncang pasokan global, harga minyak naik tajam

Ifonti.com  TOKYO. Harga minyak dunia melonjak tajam sekitar 20% pada perdagangan Senin (9/3/2026), mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. 

Kenaikan drastis ini dipicu meluasnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Lonjakan harga terjadi setelah sejumlah produsen minyak utama di kawasan tersebut mulai memangkas produksi, sementara pasar khawatir konflik akan menghambat jalur pengiriman minyak global melalui Selat Hormuz.

Analis komoditas ANZ, Daniel Hynes, mengatakan pasar merespons cepat laporan bahwa produsen minyak di Timur Tengah mulai mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan yang hampir penuh.

Harga Minyak Naik Kamis (5/3) Pagi, Pasar Menimbang Efek Perang Terhadap Pasar Energi

“Pasar melonjak karena produsen Timur Tengah mulai mengurangi output,” kata Hynes.

Kontrak minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$18,35 atau sekitar 19,8% ke level US$111,04 per barel. Pada perdagangan awal Senin, Brent masih berada di kisaran US$107,93 per barel atau naik 16,4%.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$16,50 atau sekitar 18,2% ke US$107,40 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga 22,4% ke US$111,24 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang reli pekan lalu, ketika Brent melonjak 27% dan WTI naik 35,6% akibat eskalasi konflik di kawasan.

Gangguan pasokan juga mulai terlihat nyata di sejumlah negara produsen minyak utama. Produksi minyak Irak dari ladang minyak utama di wilayah selatan dilaporkan anjlok hingga 70% menjadi hanya sekitar 1,3 juta barel per hari. 

Penurunan ini terjadi karena negara tersebut tidak dapat mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik dengan Iran.

Harga Minyak Naik 2% Pasca AS Menembak Drone Iran, Kekhawatiran Geopolitik Meningkat

Seorang pejabat perusahaan minyak negara Basra Oil Company mengatakan fasilitas penyimpanan minyak kini telah mencapai kapasitas maksimum.

Di sisi lain, Kuwait Petroleum Corporation juga mulai memangkas produksi minyak sejak Sabtu (7/3) dan menyatakan kondisi force majeure terhadap pengiriman minyak, meskipun tidak merinci besaran penurunan produksinya.

Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan juga terus berlanjut. Kebakaran dilaporkan terjadi di zona industri minyak Fujairah di Uni Emirat Arab akibat puing yang jatuh, meski tidak menimbulkan korban. Arab Saudi juga menyatakan berhasil mencegat sebuah drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah.

Di tengah memanasnya konflik, Iran pada Senin mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Penunjukan ini dinilai menegaskan dominasi kelompok garis keras di Teheran.

Analis komoditas Rakuten Securities, Satoru Yoshida, menilai perubahan kepemimpinan tersebut dapat memperpanjang konflik dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

“Iran diperkirakan akan terus menutup Selat Hormuz dan menyerang fasilitas minyak negara lain,” ujar Yoshida.

Harga Minyak Naik Senin (29/12) Pagi: Brent ke US$61,21 dan WTI ke US$57,28

Ia memperkirakan harga minyak WTI berpotensi naik hingga US$120 bahkan US$130 per barel dalam waktu relatif singkat jika konflik terus berlanjut.

Sementara itu di Amerika Serikat, pemimpin fraksi Demokrat di Senat, Chuck Schumer, mendesak Presiden Donald Trump untuk segera melepas cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasar.

“Trump harus segera melepas minyak dari cadangan strategis untuk menenangkan pasar dan menekan lonjakan harga yang mulai dirasakan keluarga Amerika,” kata Schumer.