Empat emiten bersiap rights issue di 2026, ini saran untuk investor

Ifonti.com Jakarta. Aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue marak terjadi di Bursa Efek Indonesia pada awal 2026. Dengan right issue tersebut, apa yang harus dilakukan para investor?

Salah satu yang terbaru adalah PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang telah mengantongi restu pemegang saham untuk melaksanakan rights issue.

ELPI berencana menerbitkan sebanyak 2,03 miliar saham baru. Sekretaris Perusahaan Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Wawan Heri Purnomo menjelaskan bahwa harga pelaksanaan rights issue ditetapkan sebesar Rp 350 per saham.

Dengan harga tersebut, ELPI berpotensi menghimpun dana hingga Rp 739,34 miliar.

Adapun setiap pemegang saham yang memiliki 200 saham ELPI dan tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 5 Mei 2026 berhak memperoleh 57 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

“Dana yang diperoleh dari hasil rights issue ini setelah dikurangi biaya terkait aksi korporasi ini seluruhnya akan digunakan oleh ELPI, entitas anak dan/atau afiliasinya untuk beberapa hal,” ujar Wawan.

Harga Minyak Dunia Naik, Saham ESLA, APEX & RUIS Diprediksi Beri Cuan

Selain ELPI, terdapat tiga emiten lain yang masih menunggu persetujuan pemegang saham untuk mengeksekusi rights issue. Ketiganya adalah PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), dan PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO).

BNBR berencana menerbitkan sekitar 86,7 miliar saham biasa seri E dari total rencana penerbitan hingga 90 miliar saham baru. Emiten Grup Bakrie ini menetapkan rasio rights issue sebesar 2:1.

Sementara itu, TOBA akan menawarkan sekitar 1,39 miliar saham baru. Dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.

Di sisi lain, COCO juga akan melaksanakan rights issue tahap III. Emiten produsen kakao dan cokelat asal Sumedang ini berencana menerbitkan hingga 10,67 miliar saham baru dengan tambahan waran hingga 35% dari jumlah saham beredar.

Dana segar dari aksi korporasi ini secara umum akan difokuskan untuk akuisisi dan belanja modal (capex), memperkuat ekspansi bisnis, serta meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Tonton: Dari Bintang Sinetron ke Bos OJK! Ini Sosok Friderica Widyasari Dewi

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai peluang keberhasilan rights issue di tengah kondisi pasar yang fluktuatif sangat bergantung pada kepastian pembeli siaga atau standby buyer serta tujuan penggunaan dana.

“Kalau rights issue berhasil di tengah market fluktuatif, itu sangat bergantung pada kepastian standby buyer maupun tujuan penggunaan dana,” jelas Nafan kepada Kontan, Kamis (12/3).

Menurutnya, penggunaan dana untuk ekspansi bisnis cenderung lebih diapresiasi investor dibandingkan jika dana hanya digunakan untuk melunasi utang lama yang dinilai kurang menarik bagi pasar.

Keberadaan standby buyer juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap aksi rights issue emiten, terutama di tengah fluktuasi pasar saham Indonesia.

Nafan menilai rights issue yang cukup menarik untuk dicermati adalah milik TOBA karena dana yang dihimpun akan diarahkan untuk ekspansi di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.

Ia juga mencermati rencana rights issue BNBR yang akan memanfaatkan dana segar tersebut untuk memperkuat pendanaan proyek jalan tol guna meningkatkan pendapatan berulang perusahaan.

Namun, ia menilai sebagian besar emiten yang berencana melakukan rights issue masih memiliki kapitalisasi pasar kecil hingga menengah. Hal ini membuat investor cenderung menunggu sinyal masuknya dana besar sebelum mengambil keputusan.

“Biasanya kalau smart money masuk baru saya berani rekomendasikan, tapi saat ini masih wait and see,” ujar Nafan.

Selain itu, rendahnya likuiditas juga menjadi tantangan bagi beberapa emiten seperti COCO sehingga investor cenderung lebih berhati-hati.

Dari keempat emiten tersebut, Nafan untuk sementara merekomendasikan investor bersikap wait and see.