Harga energi melonjak, ancaman penutupan Selat Hormuz picu krisis pasokan global

Ifonti.com  JAKARTA. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian memanas dan langsung berdampak pada lonjakan harga energi global. Konflik yang telah berlangsung selama empat minggu ini mendorong harga minyak melonjak tajam, seiring ancaman penutupan jalur distribusi energi paling vital di dunia, Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak, Washington mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran. 

Di sisi lain, Iran membalas bahwa jika fasilitas pembangkit listriknya diserang, mereka akan menutup Selat Hormuz “sepenuhnya,” demikian dilaporkan televisi setempat, Minggu (22/3/2026). 

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Sejak serangan militer AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari, jalur ini praktis mengalami gangguan serius, meskipun beberapa kapal dari negara tertentu masih bisa melintas secara terbatas.

Rupiah Tekor Senin (23/3), Dekati Rp 17.000 per Dolar di Tengah Gejolak Pasar Asia

Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah jenis Brent kini bertahan di kisaran US$ 112 per barel. Pada Senin (23/3/2026), pukul 10.40 WIB, harga minyak Brent berada di US$ 112,89 per barel, naik 0,62% secara harian. 

Harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 50% sejak konflik pecah. Lonjakan ini memperbesar risiko inflasi global, terutama melalui kenaikan harga bahan bakar seperti bensin dan diesel. 

Tak hanya minyak, krisis ini juga memukul pasokan gas dan produk turunannya. Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah, termasuk ladang gas dan fasilitas LNG, memperparah kekhawatiran akan gangguan pasokan jangka panjang. 

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (23/3): Turun Rp 50.000 ke Rp 2.843.000 Per Gram

Selain itu, kerusakan fasilitas produksi energi membuat pemulihan pasokan diperkirakan tidak akan berlangsung cepat, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka. Gangguan distribusi ini mulai merembet ke sektor lain, termasuk pupuk dan nutrisi pertanian, yang berpotensi mengganggu produksi pangan global.

Dari sisi politik domestik AS, lonjakan harga energi menjadi tekanan tersendiri bagi Donald Trump, terutama menjelang pemilu paruh waktu. Kenaikan harga bensin berisiko menurunkan daya beli masyarakat dan memicu ketidakpuasan publik.