Dolar AS diramal tembus Rp 20.000 efek perang Iran, ini penjelasan analis

Perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan meramal, kurs rupiah bahkan berpotensi menembus Rp 20 ribu per dolar AS.

“Data historis menunjukkan, depresiasi rupiah sebesar 15-20% bukan skenario ekstrem, tetapi sudah terjadi berulang. Dengan posisi rupiah di sekitar Rp 17.000 per dolar AS saat ini, pelemahan 20% akan membawa nilai tukar ke sekitar Rp 20.400 per dolar AS,” kata Anthony dalam keterangannya, dikutip Senin (23/3).

Anthony menggambarkan, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih rapuh meskipun cadangan devisa tercatat lebih dari US$ 150 miliar. Ia mengatakan, besarnya cadangan devisa tidak sepenuhnya mencerminkan ketahanan ekonomi karena sebagian terbentuk dari akumulasi utang luar negeri pemerintah dan Bank Indonesia.

Ia menuturkan, praktik penarikan utang luar negeri selama ini digunakan untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus menopang stabilitas rupiah melalui intervensi pasar.

Ia pun memberikan contoh tiga periode tekanan besar terhadap rupiah yang terjadi sejak 2014. Pada September 2014 hingga September 2015, cadangan devisa turun US$ 9,44 miliar saat rupiah melemah sekitar 20% dari Rp 12.185 menjadi Rp 14.650 per dolar AS.

Untuk meredam tekanan saat itu, pemerintah menerbitkan obligasi internasional sekitar US$ 6,85 miliar melalui global bond dan Samurai bond.

Tekanan serupa kembali terjadi pada 2018 ketika cadangan devisa turun lebih dalam sebesar US$ 17,13 miliar. Rupiah saat itu terdepresiasi 13,5% menjadi Rp 15.202 per dolar AS pada Oktober 2018. Saat itu, pemerintah menerbitkan utang luar negeri sekitar US$ 11,4 miliar dalam berbagai instrumen.

Kemudian, di awal pandemi Covid-19 pada 2020, tekanan lebih besar. Dalam satu bulan, cadangan devisa turun US$ 10,7 miliar dan rupiah melemah sekitar 20% hingga mencapai Rp 16.575 per dolar AS.

Anthony menilai pola tersebut menunjukkan stabilitas rupiah sangat bergantung pada keberlanjutan aliran dana eksternal.

“Cadangan devisa yang besar tidak menjamin stabilitas rupiah. Yang menentukan rupiah adalah apakah aliran dana eksternal tetap masuk atau berhenti,” katanya.

Ia juga mencatat tekanan kembali muncul pada awal 2026. Dalam dua bulan pertama, cadangan devisa turun sekitar US$ 4,6 miliar meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri setara US$ 7,1 miliar dalam denominasi dolar AS, euro, dan yuan.

Adanya perang Iran dengan AS dan Israel ini menurut Anthony dapat menjadi katalis tambahan melalui kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan perpindahan modal dari emerging market ke aset safe haven. Jika skenario geopolitik memanas, ia memperkirakan depresiasi rupiah bisa melampaui 20% dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan.

Ia menjelaskan, pengalaman krisis 1997 ketika pelemahan rupiah 25-30% dalam waktu singkat memaksa pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada Dana Moneter Internasional (IMF).

“Ketika respons datang terlambat, krisis valuta sudah membesar,” katanya.

Melansir data Bloomberg, pada Senin (23/3) pukul 14.03 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka 17.000.