
Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (24/3/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,58% secara harian ke Rp 16.898 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,04% secara harian ke Rp 16.982 per dolar AS pada Selasa (17/3/2026).
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah terjadi karena dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait eskalasi di Timur Tengah. Trump bilang bahwa AS telah melakukan percakapan yang baik dan produktif dengan Iran.
Reksadana Saham Terkoreksi 2,33% dalam Sepekan, Ini Faktor Pendorongnya
Trump disebut akan memerintahkan militer AS untuk menunda serangan militer apa pun terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Adapun, untuk besok (25/3), pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen global. Sentimen global diperkirakan masih akan berfluktuasi di tengah ketidakpastian perang Timur Tengah, sedangkan harga minyak juga berfluktuasi tajam walau sudah lebih rendah hari ini.
“Sentimen pasar diperkirakan akan kembali risk off besok, setelah sempat positif merespon pernyataan Trump,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (24/3/2026).
Lukman memperkirakan rupiah besok (25/3) akan melemah terhadap dolar AS dikisaran Rp 16.850 – Rp 17.000 per dolar AS.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menambahkan, pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen suku bunga. Hal ini setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di 4,75% pada rapat dewan gubernur (RDG) BI bulan ini.
Keputusan mempertahankan suku bunga guna menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga, dan memicu pertumbuhan ekonomi. Adapun, sentimen perang di Timur Tengah masih perlu menjadi perhatian untuk mencermati pergerakan rupiah besok. “Bank Indonesia juga tetap melakukan intervensi di pasar,” ujar Ibrahim.
Ibrahim memproyeksikan rupiah besok (25/3) direntang Rp 16.990 – Rp 17.075 per dolar AS.