Rupiah tembus Rp 17.002, ekonom nilai kebijakan FX repo BI tak cukup ampuh

Ifonti.com – JAKARTA. Implementasi kebijakan foreign exchange (FX) repo oleh Bank Indonesia (BI) dinilai belum tentu efektif menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah di tengah kuatnya sentimen global dan risiko domestik.

Asal tahu saja, nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir ke level terburuk sepanjang masa dan tembus di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Senin (30/3/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.002 per dolar AS atau melemah 0,13% dalam sehari.

Merespons hal ini, BI mengumumkan instrumen baru dalam operasi moneter, yakni penggunaan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) sebagai agunan atau underlying dalam transaksi valas mulai hari ini, Senin (30/3/2026). 

Cek Prospek Erajaya (ERAA) di Tahun 2026 Usai Raih Kenaikan Laba di 2025

BI bilang, kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market. Tujuannya, meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

Menanggapi hal ini, Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin menilai langkah tersebut efektivitasnya akan bergantung pada kondisi eksternal, khususnya konflik geopolitik dan pergerakan harga komoditas global.

“Repo itu pada akhirnya harus dibalik (reverse). Jadi kalau perang berkepanjangan dan harga minyak tetap tinggi, upaya menjinakkan dolar saat ini saya rasa akan sia-sia,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).

Menurut Ferry, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya berasal dari sisi likuiditas, tetapi juga dipengaruhi oleh potensi memburuknya fundamental Indonesia. 

Ia mengingatkan, risiko defisit neraca perdagangan dapat meningkat seiring lonjakan harga minyak, sementara kinerja ekspor berpotensi melemah, serta memburuknya kondisi fiskal negara.

Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga energi global akan menambah beban impor Indonesia. Kondisi ini dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah, terlebih jika tidak diimbangi dengan penguatan kinerja ekspor.

Ferry bahkan memperkirakan, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menembus Rp 20.000 pada semester II-2026. Risiko tersebut bisa semakin besar hingga mencapai Rp 22.000 apabila tekanan ekonomi semakin kompleks, termasuk potensi krisis pangan akibat fenomena El Nino.

Ia menambahkan, kunci utama menjaga stabilitas rupiah tidak hanya berada di kebijakan moneter, melainkan juga pada penguatan fiskal pemerintah. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk menjaga kesehatan fiskal di tengah tekanan global.

Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Proyeksi Rupiah Besok (31/3)

Di sisi lain, Ferry menilai secara fundamental rupiah sebenarnya berada dalam kondisi undervalued terhadap dolar AS jika mengacu pada indikator Real Effective Exchange Rate (REER). “Rupiah seharusnya undervalued terhadap dolar. Nilai wajarnya sekitar Rp 16.000,” tutupnya.