
Ifonti.com Jakarta. Aliran dana asing masih deras keluar dari pasar saham domestik dan menekan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Lalu, apakah sekarang saatnya jual atau beli saham berkarakteristik blue chip tersebut?
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mencatat total outflow asing telah mencapai Rp 23,91 triliun secara year to date (YTD) per 26 Maret 2026.
“Outflow ini didominasi aksi jual di sektor perbankan berkapitalisasi besar dan kami melihat tren ini belum akan berbalik dalam jangka pendek selama ketidakpastian global masih tinggi,” ujarnya.
Sejumlah sentimen global menjadi pemicu utama, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, hingga ketidakpastian arah suku bunga global. Dari domestik, pelemahan rupiah dan potensi defisit APBN 2026 juga turut membebani sentimen investor.
IHSG Turun Tipis ke 7.091, Ini Sentimen Global dan Rekomendasi Saham Hari Ini (31/3)
Meski demikian, Abida menegaskan tekanan ini lebih bersifat jangka pendek dan tidak mencerminkan penurunan fundamental emiten.
“Prospek saham blue chip tetap solid. Koreksi harga saat ini lebih mencerminkan tekanan eksternal dan bukan penurunan kinerja perusahaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sektor perbankan sebagai proxy utama investor asing memang paling terdampak. Namun kualitas aset tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah serta pertumbuhan laba yang stabil.
Dalam kondisi ini, valuasi saham blue chip dinilai sudah cukup menarik untuk akumulasi bertahap. “Banyak saham terkoreksi karena panic selling, bukan karena fundamental memburuk. Ini peluang bagi investor jangka panjang,” kata Abida.
Senada, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai outflow asing dipicu kombinasi suku bunga tinggi global, penguatan dolar AS, dan meningkatnya risk-off sentiment.
“Kenaikan harga minyak akibat risiko geopolitik, seperti potensi penutupan Selat Hormuz, juga bisa memperlebar defisit fiskal Indonesia,” ujarnya.
Tonton: Gelombang IPO Besar Datang! 11 Raksasa Siap Masuk Bursa
Meski risiko masih tinggi, Azis melihat sebagian saham blue chip sudah berada di level valuasi yang menarik dibandingkan historisnya.
“Ini membuka peluang akumulasi untuk investor jangka menengah hingga panjang, meskipun dalam jangka pendek masih cenderung wait and see,” imbuhnya.
Dari sisi rekomendasi, Abida menyarankan akumulasi selektif pada saham berfundamental kuat seperti BBCA (target Rp 11.400), BMRI (Rp 6.200), dan BBNI (Rp 4.700). Selain itu, TLKM juga direkomendasikan beli dengan target Rp 4.000.
Sementara itu, Azis merekomendasikan buy saham ASII dengan target harga Rp 7.000–Rp 7.200.
Di sisi lain, tekanan asing terlihat dari daftar net sell YTD yang didominasi saham big caps seperti BBCA, BBNI, BMRI, hingga BBRI. Sebaliknya, net buy asing mengalir ke saham komoditas seperti SGRO, ADRO, hingga PTBA.
Dengan kondisi ini, pasar masih dibayangi volatilitas jangka pendek. Namun koreksi yang terjadi membuka peluang bagi investor untuk masuk di saham-saham unggulan dengan valuasi lebih menarik.