Prospek SBN 2026: Inflow ke SBN belum deras, yield turun bertahap

Ifonti.com – JAKARTA. Prospek pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada 2026 dinilai masih menyimpan peluang, meski aliran dana asing (capital inflow) ke pasar obligasi domestik diperkirakan belum akan deras dalam waktu dekat.

Hingga 27 Maret 2026, aliran dana asing ke obligasi Indonesia secara kuartalan masih mencatatkan arus keluar (negatif) sekitar US$ 1,76 miliar.

Sejalan dengan itu, belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 30 Maret 2026, yield SBN 10 tahun berada di level 6,85% atau hampir mendekati 7%. 

IHSG Melonjak 1,92% ke 7.184, Top Gainers LQ45: BUMI, NCKL dan INCO, Rabu (1/4)

Kendati demikian, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat peluang arus masuk dana asing ke pasar SBN tetap ada sepanjang 2026, tetapi dalam waktu dekat sifatnya masih selektif.

Josua menjelaskan, terdapat empat katalis utama yang dapat mendorong masuknya dana asing ke pasar SBN. Pertama, meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menurunkan harga minyak dan meredakan tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kedua, stabilitas nilai tukar rupiah yang akan mengurangi tekanan terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Ketiga, tidak adanya penurunan lebih lanjut pada persepsi fiskal maupun penilaian dari lembaga pemeringkat.

Keempat, keyakinan pasar bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir tahun untuk menjaga stabilitas rupiah. Dari sisi nilai tukar, rupiah dinilai relatif lebih tahan dibanding beberapa mata uang Asia lain karena ditopang kenaikan harga CPO.

“Artinya, peluang perbaikan memang ada, tetapi pasar masih menunggu bukti nyata, bukan sekadar harapan,” ujar Josua kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).

Lebih lanjut, Josua memperkirakan imbal hasil SBN tenor 10 tahun masih berpotensi menurun pada sisa semester I 2026, namun dengan ruang yang terbatas dan pergerakan yang tidak akan mulus.

Dengan posisi yield di kisaran 6,85% pada akhir Maret 2026, ia memproyeksikan yield SBN 10 tahun akan bergerak di rentang 6,60% hingga 6,80% pada semester I 2026, dengan catatan kondisi global tidak memburuk dan tekanan terhadap rupiah tetap terkendali.

Sinyal Deeskalasi Timur Tengah, Rupiah Menguat ke Rp 16.983 per Dolar AS

Menurut Josua, peluang penurunan yield ke bawah level 6,50% dalam jangka pendek masih cukup sulit tercapai. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya harga minyak, kuatnya dolar AS, serta terbatasnya ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Selain itu, aliran dana asing ke pasar obligasi Indonesia juga dinilai belum sepenuhnya pulih, sehingga belum mampu menjadi penopang kuat bagi penurunan yield secara signifikan.

“Jadi arah besarnya memang bisa menurun, tetapi lebih realistis berbicara tentang penurunan bertahap, bukan penurunan tajam,” tutupnya.