Dolar AS melesat di tengah memanasnya konflik Iran-AS

Dolar Amerika Serikat menguat tajam di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang meredam harapan akan berakhirnya konflik dalam waktu dekat. 

Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat naik 0,3% pada perdagangan Kamis, mengalahkan level tertingginya yang sempat dicatatkan pada 13 April 2026.

Kelompok mata uang negara maju melemah terhadap dolar AS, dengan dolar Selandia Baru mencatatkan penurunan terbesar. Di saat yang sama, harga minyak dunia turut melonjak akibat meningkatnya risiko geopolitik. Minyak mentah Brent bahkan sempat menembus angka US$ 107 per barel.

“Minyak terus merangkak naik dan ikut mendorong penguatan dolar,” ujar Andrew Hazlett, trader valuta asing di Monex Inc, dikutip dari Bloomberg, Jumat (24/4).

Baca juga:

  • Rupiah Tersungkur ke Level Terlemah, Akankah Tembus 17.500 per Dolar AS? 
  • Harga Minyak Naik di Tengah Tak Jelasnya Kelanjutan Perundingan AS-Iran

Ia menilai, pelaku pasar melihat eskalasi ketegangan dalam beberapa hari terakhir sebagai sinyal bahwa akhir konflik tidak lagi dalam waktu dekat.

Mata uang euro juga tertekan, melemah hingga 0,3% ke level 1,1669 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh ketergantungan tinggi kawasan Eropa terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Dolar AS sebagai aset lindung nilai menguat untuk hari ketiga berturut-turut seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.

AS dan Iran dilaporkan masih mempertahankan blokade di jalur pelayaran strategis tersebut, yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

“Blokade AS dan aktivitas Iran di Hormuz meningkatkan risiko eskalasi ulang,” kata Aroop Chatterjee, analis strategi di Wells Fargo.

Chatterjee melihati, situasi ini belum menyelesaikan guncangan pasokan yang terus berlangsung, dan dampaknya akan semakin terasa jika berlarut-larut. Kepercayaan pasar kini sedang diuji.