Trump berang usai kanselir Jerman anggap Iran unggul dibanding AS

Presiden Amerika Serikat Donald J Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz saling serang terkait perang terhadap Iran. Merz mengatakan Amerika Serikat sedang “dipermalukan” oleh Iran, di tengah ketidakjelasan strategi AS dalam menghadapi Iran dan ketiadaan rencana keluar yang jelas.

Ia menilai strategi AS dalam menghadapi Iran tidak meyakinkan dan tidak memiliki rencana keluar yang jelas. Bahkan Mertz menyatakan Iran mengungguli AS baik secara militer maupun diplomatik.

Merespons pernyataan tersebut, Trump melalui media sosial besutannya, Truth Social, mengatakan Jerman tidak memiliki masalah bahwa Iran memiliki senjata nuklir.

“Merz tidak tahu apa yang dibicarakannya! Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera,” kata Trump seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (29/4).

Trump berargumen konflik dengan Iran disebabkan oleh minimnya respons oleh pimpinan negara lain terkait program senjata nuklir di Iran. “Pantas saja Jerman terpuruk baik dari segi ekonomi maupun hal lainnya,” katanya.

Komentar Merz terhadap kepemimpinan Trump dilontarkan saat beberapa Kepala Negara di Eropa mulai merenggangkan hubungan dengan Negara Abang Sam. Walau demikian, Merz telah mengunjungi Gedung Putih untuk membuka saluran produktif dengan Trump bulan lalu.

AS dan Israel mulai menyerang Iran pada akhir Februari 2026, Sabtu (28/2). Merz tampak kerap kritis terhadap agresi tersebut mengingat meningkatnya harga minyak dunia mulai mempengaruhi perekonomian Jerman.

Merz mengatakan, Trump tidak berkonsultasi dengan pemimpin negara-negara Eropa sebelum menyerang Iran. Dia juga yakin, dirinya akan skeptis kepada Trump jika tahu perang akan terjadi secara berlarut-larut.

“Jika saya tahu perang ini akan berlangsung lima atau enam pekan dan terus memburuk, saya akan menyampaikan poin saya dengan lebih keras,” katanya.

Berkaca pada masa lalu, Merz mengatakan masalah utama dalam agresi yang dilakukan AS terhadap Afganistan dan Irak adalah penyelesaian konflik. Karena itu, dia berharap konflik AS dan Iran cepat rampung.

Merz juga mengaku pesimistis akan prospek berakhirnya konflik tersebut dalam waktu dekat. Sebab, Iran ternyata lebih kuat dari yang dinilai Amerika Serikat, sementara AS tidak menunjukkan strategi negosiasi yang meyakinkan.

“Perang terhadap Iran ini telah berdampak langsung pada performa ekonomi kami. Karena itu, konflik ini harus diakhiri secepat mungkin,” ujarnya.