Putin lobi Trump untuk simpan cadangan uranium Iran

Pemerintah Rusia tengah mendekati Iran untuk mendapatkan cadangan uranium. Sejumlah laporan media internasional menyebutkan Moskow telah menawarkan diri sebagai pihak ketiga untuk menangani atau memindahkan uranium Iran dalam kerangka diplomasi nuklir.

Melansir pemberitaan The Economic Times pada Kamis (30/4), Rusia berupaya terlibat dalam pengelolaan cadangan uranium Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahkan disebut-sebut menawarkan agar negaranya menjadi pihak ketiga yang menangani stok uranium Iran guna meredakan kekhawatiran internasional terkait peningkatan penggunaan nuklir.

Keterangan tersebut disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengaku mengadakan percakapan melalui sambungan telepon pada Rabu, (29/4). Trump mengatakan Putin menawarkan agar Rusia berperan sebagai pihak ketiga yang dapat menangani 970 pon uranium yang telah diperkaya milik Iran.

“Ia mengatakan kepada saya bahwa ia ingin terlibat dalam proses pengayaan—jika ia bisa membantu kita mendapatkannya,” ujar Trump menirukan pernyataan Putin. “Saya bilang, saya lebih memilih Anda terlibat dalam mengakhiri perang dengan Ukraina. Bagi saya, itu lebih penting.”

Sementara itu, Kremlin memperingatkan akan adanya ‘konsekuensi serius’ jika permusuhan terhadap Iran kembali terjadi. Penasihat Presiden Rusia, Yuri Ushakov, mengatakan Putin telah menyampaikan kepada presiden AS bahwa operasi darat di wilayah Iran merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan berbahaya.

Pemberitaan Associated Press (AP) pada Kamis (30/4) menginformasikan opsi pengiriman uranium Iran ke luar negeri, termasuk ke Rusia, sempat menjadi bagian dari diskusi internasional untuk mengurangi risiko pengembangan senjata nuklir.

AP mengabarkan sebagian besar uranium yang diperkaya milik Iran kemungkinan masih berada di kompleks nuklir Isfahan. Fasilitas ini sempat dibombardir dalam serangan udara tahun lalu dan kembali menjadi sasaran dalam perang AS-Israel tahun ini.

Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) menyampaikan, Iran memiliki 440,9 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan hingga 60%. Level ini hanya terpaut satu langkah teknis dari tingkat kemurnian 90% yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi pada tahun lalu sebelumnya menyebut sekitar 200 kilogram di antaranya diyakini disimpan di terowongan di lokasi Isfahan. Stok tersebut berpotensi memungkinkan Iran membangun 10 bom nuklir.

Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai. Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan salah satu alasan utama negaranya berperang adalah untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.