
Ifonti.com NEW YORK. Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor pada Rabu (6/5/2026), didorong kombinasi kuat antara euforia investasi kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya harapan meredanya konflik di Timur Tengah.
Reli ini sekaligus menegaskan tingginya selera risiko investor di tengah fundamental ekonomi yang masih solid.
Hingga pukul 09.56 waktu New York, Indeks Dow Jones naik 0,91% ke 49.744,78. S&P 500 menguat 0,79% ke 7.316,86, sementara Nasdaq melonjak 1,01% ke 25.582,48, keduanya mencetak rekor tertinggi baru.
Sentimen utama datang dari sektor teknologi, khususnya chip AI. Lonjakan dipicu proyeksi optimistis Advanced Micro Devices (AMD) untuk pendapatan kuartal II, yang melampaui ekspektasi pasar berkat tingginya permintaan chip data center.
Wall Street Cetak Rekor Tertinggi, Dipicu Harapan Berakhirnya Penutupan Pemerintah AS
Saham AMD melesat 16,7%, diikuti penguatan Intel 2,7% dan Super Micro Computer yang melonjak 16,6% usai memberikan panduan kinerja yang solid.
Saham teknologi besar juga ikut menguat. Alphabet naik 1,5%, sementara Nvidia bertambah 4%, mempertegas dominasi sektor AI sebagai motor utama pasar saat ini.
Kepala riset makro Schwab Center for Financial Research, Kevin Gordon, menilai reli ini menunjukkan pasar masih “terjebak dalam euforia investasi AI.”
Ia menambahkan, meski risiko seperti kenaikan harga energi bisa menekan konsumsi, ekonomi AS masih relatif aman selama belum ada tanda pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja.
Data terbaru memperkuat pandangan tersebut. Laporan ADP menunjukkan sektor swasta AS menambah 109.000 pekerjaan pada April—tertinggi sejak Januari 2025.
Di sisi lain, sentimen geopolitik turut memberi dorongan. Harga minyak turun tajam, dengan Brent merosot 6,6% ke level terendah dalam dua pekan.
Penurunan ini dipicu laporan kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait potensi kesepakatan untuk meredakan konflik. Harapan damai ini menekan saham sektor energi di S&P 500 hingga turun 3%.
Wall Street Bergerak Datar Pasca-Natal, Investor Pantau Reli Santa Claus
Meski begitu, sebagian analis mengingatkan reli ini masih rentan. Analis Capital.com, Kyle Rodda, menyebut pasar saat ini “bertaruh bahwa konflik Timur Tengah tidak akan kembali memanas.” Ia menegaskan, jika asumsi itu meleset, aset berisiko bisa berbalik arah dengan cepat.
Secara sektoral, delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berada di zona hijau. Indeks semikonduktor Philadelphia melonjak 2,9% dan juga mencetak rekor baru, mencerminkan kuatnya arus dana ke sektor teknologi.
Dari sisi breadth market, saham yang naik jauh lebih banyak dibanding yang turun, menandakan reli yang cukup solid. S&P 500 mencatat 36 saham mencetak level tertinggi baru, sementara Nasdaq membukukan 115 saham di level puncak baru.
Secara keseluruhan, pasar saat ini ditopang dua faktor utama: kuatnya kinerja dan prospek sektor AI, serta harapan meredanya ketegangan geopolitik. Namun keberlanjutan reli akan sangat bergantung pada realisasi kedua faktor tersebut dalam waktu dekat.