
Ifonti.com JAKARTA. Kinerja emiten rumah sakit PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dinilai masih solid memasuki Kuartal II-2026. Pertumbuhan pendapatan yang konsisten, efisiensi operasional, serta penguatan layanan kesehatan bernilai tambah tinggi menjadi penopang utama prospek perseroan.
Sepanjang Kuartal I-2026, SILO mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,55 triliun atau tumbuh 8,4% secara tahunan (year on year/YoY). Di saat yang sama, EBITDA perseroan meningkat 11,7% menjadi Rp 748,8 miliar dengan margin EBITDA mencapai 29,4%.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kenaikan EBITDA yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan menunjukkan efisiensi operasional SILO semakin membaik.
“Pertumbuhan EBITDA yang lebih tinggi dari revenue menunjukkan operasional makin efisien, sementara margin EBITDA yang hampir 30% mencerminkan positioning SILO yang kuat di segmen rumah sakit premium,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).
IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Jumat (8/5), Waspadai Profit Taking
Dari sisi pengembangan bisnis, SILO dinilai memiliki prospek pertumbuhan menarik melalui ekspansi layanan baru, seperti Siloam Medical Concierge dan layanan bedah robotik. Pengembangan layanan tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat penetrasi pasar di wilayah Indonesia Timur.
Menurut Wafi, strategi ekspansi layanan kesehatan premium itu berpotensi menjadi motor pertumbuhan jangka menengah bagi perseroan.
“Layanan baru punya potensi cukup besar untuk mendorong pertumbuhan. Ini memperkuat positioning SILO di layanan high-end dan high-margin, sekaligus meningkatkan ARPU pasien,” jelasnya.
Ia menambahkan, inovasi layanan tersebut juga dapat membantu menekan potensi masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri.
Dari sisi profitabilitas, margin laba bersih SILO yang mencapai 11,5% pada Kuartal I-2026 diperkirakan masih dapat dipertahankan pada Kuartal II-2026.
“Margin masih berpotensi terjaga atau sedikit meningkat, ditopang utilisasi rumah sakit yang lebih baik dan kontribusi layanan spesialis dengan margin lebih tinggi,” tambahnya.
SILO Chart by TradingView
Meski demikian, Wafi mengingatkan bahwa keberlanjutan margin tetap dipengaruhi kondisi biaya operasional perseroan ke depan.
“Selama tidak ada lonjakan biaya operasional yang signifikan, margin masih punya ruang bertahan di level double digit,” lanjut Wafi.
Selain kinerja operasional, langkah SILO mengintegrasikan 14 properti rumah sakit senilai Rp 9 triliun juga dinilai akan memberikan dampak positif terhadap fundamental jangka panjang perseroan.
“Langkah ini memperkuat basis aset dan kontrol operasional. Memang dari sisi neraca aset dan leverage bisa meningkat, tapi perseroan mendapat fleksibilitas lebih besar untuk ekspansi dan monetisasi aset,” ungkapnya.
Menurut Wafi, selama arus kas operasional tetap kuat, strategi integrasi aset tersebut justru berpotensi memperkuat posisi keuangan SILO dalam jangka panjang.
Dengan berbagai katalis positif tersebut, KISI Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham SILO dengan target harga Rp 3.200 per saham.