
Ifonti.com – JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatat peningkatan laba bersih ditengah menurunnya pendapatan pada kuartal I – 2026. Permintaan gas domestik diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja PGAS ke depan.
Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, prospek kinerja PGAS pada kuartal II – 2026 masih cukup positif ditopang permintaan gas domestik, bisnis LNG, serta efisiensi operasional yang menjaga profitabilitas tetap solid.
“Tantangan utama berasal dari volatilitas harga energi global, pelemahan rupiah, potensi penurunan volume industri, dan risiko kenaikan biaya LNG akibat tensi geopolitik,” ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).
Harga Minyak Rebound pada Jumat (8/5) Pagi, Dipicu Bentrokan Pasukan AS dengan Iran
Sukarno menambahkan, sentimen yang perlu dicermati untuk melihat kinerja PGAS meliputi harga LNG global, volume distribusi gas, kebijakan HGBT, stabilitas pasokan gas nasional, serta pergerakan kurs dan suku bunga.
“Potensi kenaikan laba bersih masih terbuka melalui efisiensi biaya operasional, refinancing utang, dan optimalisasi utilisasi jaringan pipa dan LNG,” jelas Sukarno.
Hasan Barakwan, Analis Maybank Sekuritas mencatat perdagangan gas turun 9,8% yoy menjadi 777 billion british thermal units per day (BBTUD) dan transmisi turun 3,9% yoy menjadi 1.539 million standard cubic feet per day (MMSCFD) pada kuartal I – 2026.
Hari Ini (8/5) Cum Date, Saham Pemberi Dividen Rp 37.696 Ini Diborong Direktur
Produksi hulu menyusut menjadi 15,98 thousand barrels of oil equivalent per day (MBOEPD), turun 18,3% secara kuartalan (QoQ). Namun, harga yang lebih kuat meredam penurunan ini. Harga jual rata-rata distribusi naik menjadi US$ 9,69 per million british thermal units (MMBTU), naik 13,8% yoy, melampaui kenaikan harga pokok penjualan. Akibatnya, spread distribusi meningkat menjadi US$ 2,0 per MMBTU (naik 37,2% yoy).
“Volume pada kuartal pertama tahun 2026 melemah di semua sektor,” ujar Hasan dalam risetnya pada 30 April 2026.
Adapun, LNG menyumbang sekitar 21% dari total pasokan distribusi gas pada kuartal pertama tahun 2026 (dibandingkan dengan 7% di kuartal I – 2025 dan 12% untuk sepanjang tahun 2025). Manajemen PGAS menyebutkan bahwa lingkungan harga minyak/gas global yang tinggi akan menjadi salah satu tantangan utama mereka untuk tahun 2026, karena hal ini mengakibatkan tekanan kenaikan harga gas bagi pengguna akhir.
“Kami percaya ini menghadirkan risiko penurunan volume/margin distribusi gas, karena PGAS mungkin tidak dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya pembelian LNG-nya. Meskipun demikian, manajemen tetap yakin dan menegaskan panduan spread distribusi gas sebesar US$ 1,65 – US$ 1,85/mmbtu pada tahun 2026,” ucap Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 28 April 2026.
Timothy melihat harga saham PGAS telah terkoreksi sekitar 22% sejak mengumumkan hasil kinerja kuartal IV – 2025 pada akhir Februari, karena investor memperhitungkan perkiraan kinerja setahun penuh yang meleset dan prospek imbal hasil dividen yang lebih rendah. Perlu dicatat bahwa PGAS akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 22 Mei 2026.
“Kami memperkirakan pembayaran dividen sebesar 90% berdasarkan laba bersih setelah pajak (NPATS) tahun 2025 yang seharusnya menghasilkan dividend yield sekitar 7%, angka ini masih di bawah perusahaan batubara/energi Indonesia lainnya,” kata Timothy.
Timothy meyakini risiko bagi PGAS meliputi transaksi antar grup dengan perusahaan induknya, volume distribusi gas yang lebih tinggi dari perkiraan, kegagalan untuk mempertahankan dan memperoleh pasokan gas yang ada dan yang akan datang. Perubahan peraturan, yang menyiratkan pengembalian marjinal investasi yang lebih tinggi dan bencana alam atau kebocoran, yang dapat mengganggu bisnis transmisi dan distribusi juga patut diwaspadai.
Sementara Hasan melihat potensi risiko yang perlu dicermati antara lain volatilitas harga minyak dan gas global serta harga gas yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pokok penjualan (COGS) selama negosiasi ulang kontrak. Selain itu, perlambatan ekonomi dapat mengurangi permintaan gas.
Risiko lainnya adalah perubahan kebijakan pemerintah, terutama terkait kuota insentif pemerintah (harga gas khusus) untuk mendukung industri. Dividen yang lebih rendah dari perkiraan dan biaya yang lebih tinggi dari perkiraan akibat kasus hukum juga perlu dicermati.
Meski begitu, Hasan menilai angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat menjadi sentimen positif jika mampu mendorong permintaan listrik dan gas. Peningkatan kapasitas di PT Perta Arun Gas dapat membantu PGAS untuk berekspansi ke pasar internasional.
Hasan memproyeksikan pendapatan dan laba bersih PGAS tahun 2026 masing – masing mencapai US$ 4,09 miliar dan US$ 326 juta. Adapun pada tahun 2025, PGAS mengantongi pendapatan US$ 3,9 miliar dan laba bersih US$ 215 juta.
Hasan merekomendasikan buy saham PGAS dengan target harga Rp 2.150 per saham.
Sukarno merekomendasikan trading buy saham PGAS dengan target harga Rp 2.000 – Rp 2.100 per saham, dengan skenario bearish di Rp 1.750 per saham.
Sementara Timothy merekomendasikan netral saham PGAS dengan target harga Rp 2.180 per saham.