
Ifonti.com JAKARTA.
Ifonti.com JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan. Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (11/5), IHSG kembali amebuk 0,92% ke 6.905,62
Di tengah kondisi pasar yang volatil tersebut, kebutuhan investor ritel terhadap literasi dan alat bantu analisa semakin penting. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dilirik.
AI sebagai salah satu instrumen untuk membantu investor membaca kondisi pasar, memetakan peluang sektoral, hingga mengambil keputusan investasi secara lebih terstruktur.
Melihat tren tersebut, komunitas investor Mentorbaik kembali menggelar acara edukasi saham, Salah satu sesi utama membahas pemanfaatan AI secara praktis oleh investor ritel. Seperti untuk screening saham, analisa laporan keuangan, hingga membaca sentimen pasar secara lebih terstruktur.
Mentorbaik juga memperkenalkan penggunaan Crashmeter, framework internal yang digunakan untuk mengukur probabilitas koreksi pasar saham Indonesia dengan mengombinasikan data historis, indikator makro, dan analisa berbasis AI.
Selain itu, peserta mendapatkan pemetaan peluang di sejumlah sektor IHSG. Mulai dari perbankan, energi dan komoditas, konsumer, retail, shipping, hingga poultry.
Mentorbaik merupakan komunitas value investor berbasis digital yang hadir di platform iOS, Android, dan website. Komunitas ini dibentuk pada 2022. Pendirian komunitas ini sebagai respons terhadap maraknya investasi bodong dan praktik pompom saham.
Saat ini Mentorbaik memiliki lebih dari 3.000 anggota aktif, mulai dari investor pemula hingga analis sekuritas dan influencer saham.
Communication Cable (CCSI) Akan Rights Issue 474,77 Juta Saham Baru, Ini Tujuannya
“Kami ingin investor tidak sekadar tahu bahwa AI itu ada, tapi benar-benar bisa menggunakannya sebagai senjata analisa. MentorBasecamp 2026 adalah ruang di mana kita belajar bersama, dengan cara yang santai tapi serius,” ujar Co-Founder Mentorbaik, Thomas W. Simardjo, dalam keterangannya, Senin (11/5).
Co-Founder Mentorbaik lainnya, Tomy Hardiwidjaja, menilai AI dapat menjadi alat bantu penting bagi investor. Tetapi tidak dapat menggantikan proses analisa dan pengambilan keputusan.
Menurutnuya, AI sebagai thinking partner, bukan pengganti analisa. AI yang bagus bisa membantu kita menyaring ratusan laporan keuangan dalam menit, membandingkan valuasi lintas sektor, membaca pola historis siklus market yang butuh berjam-jam kalau dikerjakan manual. “Tapi keputusan akhir tetap harus dari investor yang sudah terlatih,” tegasnya.
Menurutnya, IHSG saat ini berada di tengah periode yang penuh tekanan “Justru di saat seperti ini, investor yang punya tools yang tepat dan literasi yang kuat akan menemukan peluang yang tidak dilihat orang lain,” ujarnya.