Saat inflasi AS meledak dan Nasdaq terkoreksi, Bitcoin makin dilirik investor

Ifonti.com JAKARTA. Di tengah tekanan di instrumen berisiko dan inflasi AS yang meledak ke level tertinggi dalam tiga tahun, Bitcoin justru mencatat dinamika yang menarik.

Pada saat yang sama, inflasi konsumen Amerika Serikat (CPI) melonjak ke 3,8% secara tahunan pada April 2026, level tertinggi sejak Mei 2023, dengan kenaikan bulanan 0,6% yang melampaui ekspektasi Wall Street.

Harga energi melonjak 17,9% year-on-year dan menyumbang lebih dari 40% total kenaikan CPI, sementara bensin naik 28,4% dalam setahun.

Harga bahan makanan rumah tangga naik 0,7% dalam sebulan, lompatan terbesar sejak Agustus 2022. Di tengah semua itu, upah riil pekerja AS justru turun 0,5%.

Fahmi Almuttaqin, Analis Reku, mencermati reaksi pasar yang langsung terasa. Nasdaq anjlok hampir 2% sebelum rebound, S&P 500 turun 0,4% dari rekor tertingginya. Saham-saham mining kripto terjun paling dalam: MARA -5%, CleanSpark -5,8%, Riot -3,2%.

Namun, pada Kamis (14/5/2026) pukul 16.30 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 79.787,3 atau naik 6,6% dalam sebulan terakhir.

Penjualan ST016 Masih Positif di Tengah Tekanan Pasar Global

Kata Fahmi, kondisi ini menandakan kapital tidak keluar dari kripto, melainkan berpindah dari altcoin ke BTC sebagai safe haven internal.

“Bitcoin sempat swing higher sesaat setelah data CPI dirilis, bergerak searah dengan yield Treasury, bukan searah dengan Nasdaq. Ini menyoroti perilaku harga yang semakin relevan untuk diperhatikan sebagai instrumen diversifikasi dan growth engine dalam portofolio investor,” jelas Fahmi dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pekan ini menyimpan tiga katalis yang masing-masing berpotensi menggerakkan pasar secara signifikan.

Kamis, 14 Mei pukul 21:30 WIB, Senate Banking Committee AS dijadwalkan menggelar markup hearing CLARITY Act, yakni RUU yang akan menentukan apakah Bitcoin diperlakukan sebagai komoditas secara hukum di AS.

Jumat, 15 Mei, Jerome Powell resmi lengser dan digantikan oleh Kevin Warsh, yang akan menjadi Fed Chair pertama dalam sejarah yang secara terbuka berinvestasi di kripto.

Sementara itu, Trump sedang bernegosiasi dengan Xi Jinping di Beijing soal perdagangan dan AI.

Panda Bonds Bisa Jadi Alternatif Pembiayaan Saat Biaya Utang Naik

Bagi investor Indonesia, inflasi energi 17,9% di AS berarti tekanan harga minyak global belum mereda. Rupiah telah melemah melampaui Rp 17.500 per dolar AS, bahkan pelemahan ini sudah mulai terjadi beberapa jam sebelum data inflasi AS dirilis.

Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan BBM-nya, dan setiap kenaikan harga Brent memperlebar defisit APBN, memberikan tekanan terhadap daya beli dan pertumbuhan bisnis dalam negeri.

Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga 2027, dolar AS berpotensi tetap kuat dan semakin menekan seluruh mata uang emerging market termasuk rupiah.

Fahmi menekankan, di tengah situasi ini, Bitcoin baru saja membuktikan bahwa ia bisa bertahan saat inflasi meledak dan pasar saham tertekan.

“Meskipun ini bukan jaminan, data menunjukkan posisi Bitcoin yang semakin strategis, baik sebagai inflation hedge maupun reserve asset di tengah erosi daya beli mata uang fiat,” tutup Fahmi.